Wednesday, December 16, 2009

Dirham Versus Riyal


Tersebutlah, suatu pagi saya berbelanja kebutuhan rumah tangga di pasar dekat rumahku. Waktu itu saya berbelanja sayur-sayuran kepada seorang ibu-ibu yang menjual barang dagangannya secara lesehan. Biasanya saya tidak berbelanja ke ibu itu tetapi karena langgananku tidak menjual apa yang aku butuhkan, aku memutuskan untuk membeli ke ibu tersebut. Selesai mengambil yang aku butuhkan akupun bertanya kepada ibu tersebut dengan menggunakan bahasa pasaran mereka (darijah).

Aku tanya: Bechal kullu chiesaya? (berapa total harga semuanya?)

Ibu itupun mulai menghitung acak: Hada.. hada.. whada kulchie... sittin (ini…ini..dan itu semuanya enam puluh)

Akupun spaning dan bertanya kaget: bechal ghultili? (Berapa kau bilang?),,, dalam hati terkejut banget, lalu
Aku mulai protes: Walach sittin? Ana dima aakkhudo betlata dirham bass (kok bisa enam puluh sih? Aku biasannya cuma beli tiga dirham aja).

Ibu tersebut masih berusaha menjelaskan dengan menghitung lagi dan ternyata masih tetap saja ngotot menyebut enam puluh. Nah, ditengah perdebatan yang pelik tersebut akhirnya datang seseorang menengahi kami dan bertanya kepada ibu penjual sayur: Wamraat, bechal hasabtiya dyolha (berapa total belanjaan dia?). Ia menjawab seperti tadi,,, kulchie sittin real (semuanya enam puluh riyal).

Mediator tadi tersenyum mafhum berkata kepadaku sambil menjelaskan: Aaa…safi fahemto daba, heya takssod tlata dirham (yakni…maksudnya tiga dirham). Lalu, dalam hati aku lega ternyata belanjaanku tidak semahal itu (baca 60), ternyata orang Maroko punya semacam perhitungan tersendiri dalam jual beli seperti masalahku tadi. Ibu tersebut berkata 60 ternyata hanya 3 dirham saja.

(Tenang-tenang bapak dan ibu-ibu sambil naik ke podium, gubraks). Jadi tadi aku bilang dirham dan si ibu tersebut terus-terusan berkata riyal padahal mata uang Maroko adalah dirham, apakah aku membayar dengan riyal? Jawabannya tidak sodara-sodara aku tetap membayar dengan dirham.

Disinilah letak keunikannya cara perhitungan jual beli di Maroko. Coba hitung 60 : 20 = 3, yup itulah, jadi setiap 1 dirham bermakna 20 riyal bagi masyarakat sini dan secara luas telah difahami oleh kalangan mereka. Permasalahanpun timbul apabila kita bertemu dengan ibu atau bapak dari kampung ataupun tidak berpendidikan yang mana mereka masih otomatis menyebutkan riyal tampa tahu berapa dirham yang mereka inginkan (sounds ribet? Yes it is) bahkan sampai sekarang akupun masih bingung bagaimana menghapal hal itu bisa terjadi bahkan dibeberapa daerah masih ada lagi jenis perhitungan yang sama sekali berbeda, misalnya orang yang berada di daerah Tetouan (daerah utara Maroko yang terletak di pegunungan dan pantai yang sangat dekat dengan Spanyol) menggunakan perhitungan Frank yang sama sekali berbeda dengan riyal tersebut.

Tips belanja dipasar Kamra:
COMPARS MATA UANG MAROKO
DIRHAM DRIYAL
0, 5 = 1
0, 10 = 2
0, 20 = 4
0, 50 = 10
1 = 20
2 = 40
5 = 100
10 = 200
20 = 400
50 = 1000
100 = 2000
200 = 4000

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Facebook Badge

The beginning of making this blog

Maroko atau al-Magrib (Morocco: Inggris), pada awalnya sungguh tidak pernah terpikirkan autor untuk mengunjunginya apalagi sampai menetap di negeri yang sangat asing tersebut bahkan sangat jarang terdengar oleh telinga dan sedikit pun tidak pernah terbetik di hati saya untuk mengunjunginya.

Ia terletak di benua Afrika bagian utara, berbatasan dengan negara: Spanyol di sebelah utara, Aljazair di sebelah timur, Mauritania di sebelah selatan dan di bagian sisi baratnya membentang lebar samudera Atlantik hingga ke benua Amerika. Jarak dari Indonesia sendiri ditempuh 18 jam perjalanan via airplane.

Maroko menyimpan sejuta kenangan yang hampir dipastikan tidak akan saya lupakan seumur hidup. Bagaimana tidak, di negeri Ibnu Batouta tersebutlah penulis bertemu, menikah dan mengarungi empat tahun bahtera perkawinan. Negerinya sangat eksotik sayang untuk dilupakan begitu saja berlalu termakan waktu.

Tujuan awal penulisan blog ini adalah pengenalan dan penggalian budaya masyarakat setempat (Maroko red) serta dokumentasi perjalanan saya selama merantau di negeri tersebut. Berbekal dengan pengalaman tinggal selama empat tahun tersebut serta keinginan kuat untuk mendokumentasikan cerita-cerita unik pelengkap koleksi foto serta budaya dan tradisi masyarakat setempatlah membuat saya sedikit nekat untuk menuliskan blog pertama saya ini.

Saya memilih Judul "Untaian Cerita dari al-Magribi", untuk mendokumentasikan setiap perjalanan penulis ke daerah-daerah tertentu serta objek unik yang penulis tidak pernah jumpai dimanapun baik di Qatar, tempat bermukim penulis sebelumnya seperti sistem jual beli dan Driyal yang berlaku serta sempat membuat keki dan kelimpungan penulis.

Saya sangat mengharapkan blog ini dapat menjadi semacam buku 'pintar' yang berisi info-info singkat yang dibutuhkan orang yang ingin berkunjung ke negara tersebut juga dapat menjadi tour naratif yang deskriktif sehingga seolah-olah pembaca dapat merasakan 'aroma' Maroko serta menyelami pengalaman saya.

Banyak sekali hal-hal yang sangat layak kita ketahui tentang Maroko, bagaimana tidak Indonesia sebagai Negara Islam terbesar harus tahu tentang sejarah peradaban Andalusia yang sangat lama serta kokoh yang berada di sebagian daerah Maroko. Juga dari segi tokoh-tokoh baik ilmuwan, penjelajah dan pejuang yang mengharumkan segenap persada dunia Islam pada khususnya adalah orang Maroko. Hubungan emosional masyarakat Maroko dan Indonesia yang sangat dekat juga dirasakan penulis sebagai alasan tepat penulisan blog ini. Bagaimana tidak dahulunya proklamator kita dan raja Mohammed V berkarib dekat sampai-sampai terdapat penamaan jalan yang mengambil nama 'Jakarta', 'Bandoeng' serta 'Soekarno' begitu pula terdapat nama tempat 'Casablanca' yang sebenarnya adalah nama salah satu kota penting di Maroko.

Mungkin selama ini terbetik dalam benak kita bahwa universitas Islam yang tertua di dunia adalah Al Azhar-Cairo padahal ditilik dari sejarah ternyata universitas Al Karawiyyin di kota Fes telah berdiri kokoh 120 tahun sebelum Al Azhar serta adalah salah satu alumninya seorang pemimpin gereja katolik tertinggi Vatikan-Roma yaitu Paus Paulus Salvatore VIII!!!.

Arita Agustina Med HATTA