Wednesday, December 16, 2009

Negri seribu satu café


Kopi bagi masyarakat Maroko sangat tidak terpisahkan dengan para pria dan café. Setiap hari mereka menghabiskan waktu dengan duduk-duduk di cafe sambil berbincang-bincang atau hanya sekedar cari angin. Café di Maroko biasanya mempunyai arena terbuka yang hanya dilapisi tenda yang transparan. Dari pagi mulai buka sampai malam café selalu di penuhi dengan orang yang duduk sambil membaca koran, mengisi TTS sekedar bercerita atau hanya sendiri saja. Industri café berjamuran dimana-mana. Hampir tiap 100 meter terdapat café, memang benar-benar fenomenal tetapi anehnya semua cafe tersebut di padati pengunjung. Mungkin rumah yang kecil dan tidak bertaman yang membuat mereka jenuh dan banyak menghabiskan waktu di luar. Rumah di sini mayoritas adalah apartement kecil maksimal 3 kamar saja dan hanya warga lapisan atas saja yang tinggal di rumah bertaman seperti yang ada di indonesia atau yang lazim di sebut villa.

Bisnis café di sini sangat diminati terbukti dari penghasilan mereka yang rata-rata sedikitnya 15.000 dh atau 15 juta sehari jika di bilangkan dalam mata uang negara kita. Ada café yang hanya menyediakan minuman standar saja seperti kopi pekat (noir café), kopi krim (café cream) dan cappucino namun ada juga yang menyediakan segala jenis jus dan ada pula yang membuka counter khusus pattiserie yang lezat itu. Counter tersebut menyediakan kue-kue khas perancis dan Maroko seperti petit pain, croisant, baguette sampai pastella (kue khas Maroko yang terbuat dari campuran ayam cincang dan kacang-kacangan beraroma kayu manis yang rasanya manis dan gurih).

Harga segelas kopi pekat dan kopi krim rata-rata seharga 6 sampai 15 dh tergantung tempatnya dan servis yang diberikan. Uniknya mereka boleh meninggalkan kopi yang tidak selesai di minum dan hanya ditutup saja selama berjam-jam dan kemudian datang lagi dan melanjutkan minum setelah minta dipanaskan tampa spesial tip. Menurut teman suamiku yang bekerja sebagai garcon (pelayan café) orang yang datang setiap hari bisa dipastikan hanya itu-itu saja. Mereka datang pada jam dan menduduki kursi yang sama setiap hari. Jika mereka tidak datang bisa dipastikan mereka sedang keluar kota, sakit atau meninggal (innalillahi rajiun). Minum kopi juga diminati oleh anak-anak abg yang ingin cari suasana lain. Mereka juga memamfaatkan café untuk belajar. Pernah penulis menyaksikan di televisi liputan khusus siswa SMA belajar di café berbondong-bondong. Cafe juga banyak dimamfaatkan orang untuk melakukan transaksi bisnis. Seperti simsar (agen perumahan) , pengusaha kecil dan lain-lain seperti yang lazim dilakukan di Indonesia makan siang, meeting atau sekedar minum kopi di café dengan kolega bisnis.

Ada café yang sangat terkenal di kota Rabat(ibukota Maroko) bernama BALIMA. Café tersebut telah ada sejak tahun 60 an dan masih berdiri dan ramai dikunjungi orang-orang. Terletak di tengah-tengah jantung kota Rabat di depan gedung parlemen dan hotel yang bernama BALIMA juga. Pemandangan di depan sangat bagus dihiasi design arsitektur khas perancis masa lampau yang masih di lestarikan.


Salah satu cafe di kota Casablanca yang menyajikan 3 minuman. Café (kopi), glacier (jus dan ice cream), salon de the (teh)


Bangunan yang bertenda adalah cafe yang di bangun sangat berdekatan dan diatasnya appartemen


Deretan villa


Hotel Balima n Café Balima


Pemandangan di sekitar café Balima Rabat

Source pic Café Balima: http://www.facebook.com/photo.php?pid=30318750&op=1&o=global&view=global&subj=1636442170&id=1458882126#/photo.php?pid=30318750&id=1458882126

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Facebook Badge

The beginning of making this blog

Maroko atau al-Magrib (Morocco: Inggris), pada awalnya sungguh tidak pernah terpikirkan autor untuk mengunjunginya apalagi sampai menetap di negeri yang sangat asing tersebut bahkan sangat jarang terdengar oleh telinga dan sedikit pun tidak pernah terbetik di hati saya untuk mengunjunginya.

Ia terletak di benua Afrika bagian utara, berbatasan dengan negara: Spanyol di sebelah utara, Aljazair di sebelah timur, Mauritania di sebelah selatan dan di bagian sisi baratnya membentang lebar samudera Atlantik hingga ke benua Amerika. Jarak dari Indonesia sendiri ditempuh 18 jam perjalanan via airplane.

Maroko menyimpan sejuta kenangan yang hampir dipastikan tidak akan saya lupakan seumur hidup. Bagaimana tidak, di negeri Ibnu Batouta tersebutlah penulis bertemu, menikah dan mengarungi empat tahun bahtera perkawinan. Negerinya sangat eksotik sayang untuk dilupakan begitu saja berlalu termakan waktu.

Tujuan awal penulisan blog ini adalah pengenalan dan penggalian budaya masyarakat setempat (Maroko red) serta dokumentasi perjalanan saya selama merantau di negeri tersebut. Berbekal dengan pengalaman tinggal selama empat tahun tersebut serta keinginan kuat untuk mendokumentasikan cerita-cerita unik pelengkap koleksi foto serta budaya dan tradisi masyarakat setempatlah membuat saya sedikit nekat untuk menuliskan blog pertama saya ini.

Saya memilih Judul "Untaian Cerita dari al-Magribi", untuk mendokumentasikan setiap perjalanan penulis ke daerah-daerah tertentu serta objek unik yang penulis tidak pernah jumpai dimanapun baik di Qatar, tempat bermukim penulis sebelumnya seperti sistem jual beli dan Driyal yang berlaku serta sempat membuat keki dan kelimpungan penulis.

Saya sangat mengharapkan blog ini dapat menjadi semacam buku 'pintar' yang berisi info-info singkat yang dibutuhkan orang yang ingin berkunjung ke negara tersebut juga dapat menjadi tour naratif yang deskriktif sehingga seolah-olah pembaca dapat merasakan 'aroma' Maroko serta menyelami pengalaman saya.

Banyak sekali hal-hal yang sangat layak kita ketahui tentang Maroko, bagaimana tidak Indonesia sebagai Negara Islam terbesar harus tahu tentang sejarah peradaban Andalusia yang sangat lama serta kokoh yang berada di sebagian daerah Maroko. Juga dari segi tokoh-tokoh baik ilmuwan, penjelajah dan pejuang yang mengharumkan segenap persada dunia Islam pada khususnya adalah orang Maroko. Hubungan emosional masyarakat Maroko dan Indonesia yang sangat dekat juga dirasakan penulis sebagai alasan tepat penulisan blog ini. Bagaimana tidak dahulunya proklamator kita dan raja Mohammed V berkarib dekat sampai-sampai terdapat penamaan jalan yang mengambil nama 'Jakarta', 'Bandoeng' serta 'Soekarno' begitu pula terdapat nama tempat 'Casablanca' yang sebenarnya adalah nama salah satu kota penting di Maroko.

Mungkin selama ini terbetik dalam benak kita bahwa universitas Islam yang tertua di dunia adalah Al Azhar-Cairo padahal ditilik dari sejarah ternyata universitas Al Karawiyyin di kota Fes telah berdiri kokoh 120 tahun sebelum Al Azhar serta adalah salah satu alumninya seorang pemimpin gereja katolik tertinggi Vatikan-Roma yaitu Paus Paulus Salvatore VIII!!!.

Arita Agustina Med HATTA