"Bumi Allah amatlah luas maka hijrahlah... Jauh berjalan banyak dilihat ..."
Wednesday, December 16, 2009
Belajar Pengalaman Dari Seorang Teman
Dia sebenarnya adalah anak yang baik, berjiwa sosial yang tinggi dan dapat diandalkan untuk mengerjakan sesuatu. Bagaimana tidak semua pekerjaan yang meliputi pertukangan, seni, design sampai hal–hal remeh-temeh seperti bersih-bersih rumah bahkan memasak !! sounds so amazing ya... tapi begitulah adanya. Dia memendam asa untuk menjadi seorang yang sukses baik dalam kehidupan berkarir dan juga dalam kehidupan pribadi kelak.
Sejak awal berangkat ke luar negeri sebenarnya dia telah memilah-milih jurusan yang bakal dimasukinya tapi entah mengapa sebabnya sampai beberapa tahun bermukim di luar negeri, belum ada satupun jurusan yang di masukinya. Alasannya jurusan yang di incar-incar belum dibuka dan kalaupun ada jurusan itu tak terjangkau olehnya karena jurusan itu hanya di buka di perguruan tinggi swasta yang mana biayanya sangat mahal. Sementara itu semua mahasiswa yang datang ke negeri itu mengambil jurusan yang dibuka oleh perguruan tinggi negri, karena dengan hanya memasukinya si mahasiswa yang bersangkutan akan di bebaskan dari biaya bulanan dan bahkan jika kuota memungkinkan mereka akan mendapatkan beasiswa sekadarnya.
Yah, itulah teman suamiku yang sudah lama dikenal bahkan jauh sebelum suamiku datang menuntut ilmu ke negeri itu. Bertahun-tahun sudah mereka tidak bersua ataupun mendengar sekadar kabarnya namun tepat pada awal bulan suci umat Islam sedunia, aku dan suamiku akhirnya berkesempatan bertemu di sebuah kota besar pusat perdagangan di negara itu dua tahun silam. Pada kesempatan itu aku dan suamiku sedang ambil bagian dalam pameran yang diadakan untuk memeriahkan bulan Ramadahan tahun itu sebulan penuh.
Dia datang dengan berjuta cerita tentang kesuksesan-kesuksesannya. Tentang gadis manis anak asli negara itu yang dipersuntingnya dan rentetan cerita pengalamannya meraih cita-citanya selama mengembara bertahun-tahun di negeri itu. Dalam kesempatan yang langka itu akhirnya dia setuju untuk sekedar bersilaturrahmi ke rumah kami untuk bernostalgia ke masa l alu.
Pada malam itu merekapun bertukar cerita tentang kehidupan yang telah dialami dulu dan sekarang. Sambil menunggu waktu sahur mereka berbincang-bincang semalam suntuk. Dia bercerita tentang profesi yang digelutinya sekarang, rumah yang yang ditinggalinya sampai istrinya yang seorang anak keluarga terhormat yang juga berprofesi tak kalah terhormat dengannya. Bagaimana tidak, seorang Arsitek kenamaan berhasil mempersunting seorang Gynecolog yang brilian. Dia berkata pada bulan Ramadhan ini dia berada di luar kotanya dalam rangka menghabiskan cuti pekerjaanya sebulan penuh tampa membawa serta istrinya dengan alasan pekerjaan istrinya yang tidak bisa ditinggalkan.
Esoknya kamipun berpisah sembari berjanji akan saling kontak selalu, dia menyertakan nomor telpon gengamnya. Kamipun memulai hari dengan aktivitas masing-masing. Aku mulai menyibukkan diri membantu suamiku berjualan di pameran diseberang Masjid kenamaan yang konon menurut masyarakat setempat terbesar ketiga di dunia setelah dua Masjid Haramain yang suci itu. Tak dinyana kamipun bertemu kembali di arena pameran yang tengah berlangsung itu. Dia pun berkata “wah...ketemu lagi nih sama gwa, kebetulan nih gwa lagi ada job disini”. Dalam hati“ nah loh... katenye dia lagi cuti tapi kok malah ikut pameran lagi disini, kok berasa kontras sama pekerjaan sehari-harinya sebagai arsitek ya” big question goes around my mind. Anehnya suamiku sama sekali tak merasa heran dengan kejanggalan itu malah senyum-senyum penuh arti.
Makin didesak dengan pertanyaan seputar temannya dia hanya berkata pendek “ nti lama-lama juga akan semakin knal sapa dia”
Si Dani tersebut ternyata membantu temannya yang mempunyai usaha serupa dengan suamiku. Menurut pengakuannya, sebulan cutinya ini akan dia mamfaatkan untuk menjajal usaha tersebut. Yah hitung-hitung memamfaatkan uang yang ada daripada cuma didepositokan aja terangnya. Okey…okey masuk akal juga yang dia ceritakan tapi kok setelah malam pertemuan yang pertama tersebut dan dilanjutkan dengan malam-malam berikutnya, ceritanya makin aneh-aneh aja seolah tidak ada benang merah yang menyatukanya. Bagaimana tidak kalau pada pertemuan pertama dia berkata istrinya bernama A , hari ini dia berkata namanya B. Jika sebelumnya berkata dia telah menikah dan istrinya telah hamil sekarang dia berkata bahwasannya tunangannya begini begitu. Jadi ternyata menurut pengamatan selama ini apa yang kita katakan akan dua kali atau lebih dia ungkapkan juga. Makin lama berbincang-bincang dengannya akan semangkin ketahuan apa dan siapa dia.
Menurut suamiku, dulunya dia memimpi-mimpikan kesuksesan yang luar biasa. Di hormati orang-orang sekitarnya, punya uang yang banyak serta ingin mempunyai keahlian yang tidak biasa namun bukan saja background pendidikan yang tidak memungkinkan untuk menggapai cita-citanya. Ketiaadaan biaya yang menyulitkannya, ditambah lagi para pejabat yang berkuasa saat itu sangat tidak mendukung harmonisasi pendidikan di negara tersebut. Jadilah hidupnya terkatung-katung antara keinginan sukses instan dan keinginan untuk pulang ke pangkuaan ibu pertiwi.
Sebenarnya dia pernah pulang ke negaranya namun entah kenapa dia memutuskan untuk kembali lagi ke luar negeri di negara yang di datanginya dulu. Pernah dia bekerja sekadar membantu di rumah diplomat dan mendapat gaji ala kadarnya serta tempat tinggal. Dua gelombang diplomat dengan jabatan yang sama telah di tinggalinya. Setelah itu tampaknya periode berikutnya enggan memperkerjakannya, dari situlah suamiku tidak pernah bertemu dengannya lagi.
Dulu pernah ada kejadian yang sangat tidak disangka-sangka terjadi. Pada kesempatan jalan-jalan di ibukota negara tersebut, suamiku dan temannya di kejutkan dengan seseorang yang mengaku kenal dengan petinggi diplomat setingkat di bawah duta besar bernama Dani menawarkan mobil yang dikendarainya. Setelah orang itu pergi karuan saja suamiku dan temannya tertawa terbahak-bahak. Bagaimana tidak mobil itu dimiliki oleh diplomat yang dia tinggali.
Pernah juga dia mendatangi suamiku dengan bercerita ini itu dengan hebohnya mengenai profesinya yang mana dia lagi di sibukkan di kota tempat suamiku belajar dengan pekerjaan mengukur tanah yang akan dia design menjadi villa, namun ujung-ujungnya dia minta di pinjami uang barang beberapa sekadar ongkos pulang“nah loh…ga singkron kan?” masa seorang arsitek terkenal yang selalu dapat job dari mana-mana tidak punya uang untuk ongkos!!
Bisa jadi apa yang dia alami sekarang adalah manifestasi dari keinginan yang tertanam di dalam jiwa. Sebuah pengingkaran realita yang terjadi pada dirinya. Dia membohongi orang lain untuk menyelamatkan egonya sebagai manusia yang punya harkat dan martabat. Dia mencoba membuang pikiran pahit yang selama ini mengikutnya namun dia lupa bahwa jika kita memulai untuk berbohong satu kata maka seribu kata lagi akan tecetus dari bibir untuk menutupi kebohongan yang lalu. Meminjam ungkapan Anwar Sadat, Presiden kedua Mesir, dalam salah satu pidatonya “ seseorang tidak akan maju selama dia masih memiliki kepribadian ganda” Wallahualam
Maroko, penghujung musim dingin Tahun 2009
Aidul Adha di Maroko
Salah satu hari yang di muliakan umat Islam adalah hari raya haji atau Aidul Adha/ Aidul Qurban. Pada saat itu ada hari yang dimana di sebut hari tasyrik. Yaitu pada tanggal 11, 12 sampai 13 Zulhijjah dalam kalender hijriah. Saking di anjurkan untuk di meriahkan, tiga hari tersebut juga diharamkan bagi kita untuk berpuasa. Pada hari itu juga disunatkan menyembelih hewan bagi yang mampu. Hewan yang lazim di sembelih meliputi unta, sapi dan kambing.
Masyarakat Maroko yang berada pada bumi Andaluasia pun melakukan ritual tersebut. Berbeda dengan di Indonesia yang menyembelih hewan jika mampu, di Maroko semua orang tak terkecuali mampu ataupun tidak memaksakan diri untuk menyembelih qurban. Bahkan menurut salah satu koran setempat yang pernah aku baca seorang miskin terpaksa menjual atap rumahnya hanya untuk membeli kambing saja. Jadi ritual menyembelih disini sudah seperti budaya bukan sekedar kewajiban agama saja. Kalau di Indonesia kita menyembelih secara bersama-sama dan setelah itu dibagikan bagi yang tidak mampu, tidak begitu dengan masyarakat disini. Mereka meyembelih sendiri dan memakannya sendiri pula (baca sekeluarga saja) walau ada juga yang memberikan daging buat orang lain juga namun hal itu sangat sedikit di lakukan.
Di Indonesia sapi di potong untuk qurban tujuh orang dan kambing untuk satu orang, hal itu tidak berlaku di Maroko. Mayoritas dari mereka hanya menyembelih kambing saja itupun bagi suatu keluarga bukan dihitung perkepala. Jenis kambing yang lazim mereka sembelih adalah kambing biri-biri (kharup) dan kambing kampung (mais) sementara sapi hanya disembelih bagi minoritas orang yang sangat mampu saja. Harga kambing biri-biri pada hari mendekati qurban adalah 1700 dh sampai 3000 dh sedangkan kambing kampung adalah 700 dh sampai 1500 dh tergantung kilonya dan keadaan kambingnya.
Pada hari-hari menjelang lebaran akan di temui fenomena yang tidak biasa. Semua tanah lapang berubah menjadi pasar kambing begitu juga banyak di temukan pedagang kambing dadakan yang menjual kambing di garasi rumahnya. Selain fenomena tersebut kita juga akan menemukan jasa para pengasah pisau di setiap tempat yang ramai dan mudah dilihat orang, entah itu pasar ataupun di tepi persimpangan jalan juga ada yang mendatangi rumah-rumah sambil membawa alat gerindanya. Para pedagang juga tidak mau ketinggalan mereka menjual alat-alat yang berhubungan dengan perqurbanan seperti pisau sembelih, gergaji tulang, kawat gantungan daging, tali untuk mengikat kambing, arang serta alat untuk memanggang daging. Pada saat itu mereka sibuk berbelanja kebutuhan lebaran. Semua pusat perbelanjaan dipenuhi dengan antrean pembeli. Biasanya mereka membeli alat yang berhubungan dengan lebaran, sembako dan tak ketinggalan coke. Selain teh mereka juga sangat menyukai coke (sungguh sebuah fenomena yang luar biasa).
Selepas shalat Aidul Qurban para kepala rumah tangga bersiap-siap memotong kambingnya sendiri. Kadang-kadang mereka menguliti sendiri atau memanggil orang untuk melakukannya. Biaya menguliti berkisar 50 dh perekor. Setelah itu mereka tidak langsung memasak dagingnya melainkan di gantung dulu baru esoknya di masak. Pada hari pertama mereka hanya memakan jeroannya saja. Pada hari kedua biasanya mereka memanggang daging atau membuat sate yang lazim di sebut brochette. Jangan bayangkan mereka memakai bumbu memanggang sate tersebut seperti yang dilakukan masyarakat kita. Sate hanya di bakar baru setelah itu dimakan bersama ketumbar bubuk (kasbur), jintan bubuk (kamun) dan garam saja. Jenis masakan yang sering dimasak pun berkisar antara tajine (masakan daging dengan bumbu-bumbu tertentu dengan daun ketumbar dan banyak bawang yang dimasak lama sekali) Kalau di Indonesia masakan tersebut setara dengan kedudukan rendang, cotlette (iga kambing yang dipanggang diatas bara api), couscous juga sering dimasak pada hari tersebut (sejenis gandum yang dimasak dengan daging, bumbu dan sayur-mayur). Pada hari itu di jalan-jalan banyak juga di temukan jasa orang yang membersihkan kepala kambing. Hampir tiap meter di temukan usaha dadakan tersebut.
Pertemuanku
Aku bertemu suamiku pada akhir January 2006. Kami dipertemukan oleh Allah melalui temanku yang bernama Yuli via Yahoo Mesengger. Saat itu aku menerima tawarannya karena aku sedang butuh teman ngobrol di karenakan orang tuaku sedang berlibur ke tanah air dan kantor dimana aku bekerja sedang libur menyambut hari raya umat Islam Aidul Adha. Ketika itu tidak pernah terlintas di pikiranku untuk mencari pendamping hidup melalui media tersebut dan aku sangat di kejutkan dengan pernyataannya yang ingin berkenalan lebih jauh denganku untuk menjalin hubungan serius kearah pernikahan.
Terus terang saja saat itu aku menolak mentah-mentah tawarannya. Di samping saat itu aku baru saja patah hati ya..aku juga belum siap jika menikah dalam waktu dekat apalagi hanya berkenalan dari media chatting yang mana seseorang bisa saja berbohong demi maksud-maksud tertentu. Juga apabila ingin berbohong alangkah gampangnya bukan ? Mau kirim foto bisa saja bukan foto dirinya yang di kirimkan melainkan foto orang yang berwajah rupawan untuk menarik perhatian. Begitupula dengan identitas, tak sulit untuk memalsukan nama jika ingin membuat id di internet. Semua yang mungkin terjadi membuatku segera ilfil alias ga’ kepingin lagi melanjutkan pembicaraan dengan orang yang belum aku kenal tersebut. Bisa-bisa dia seorang psikopat.
Segera saja aku menyibukkan diri dengan aktivitas lain tetapi entah kenapa kok aku jadi merasa sedikit bersalah dengan orang tersebut. Sempat terjadi perdebatan yang sengit antara aku dengannya tentang maya atau tidak, tentu saja aku menolak semua pendapatnya dan berusaha mati-matian mempertahankan asumsiku tentang cyber love ditambah lagi dengan cerita-cerita miring yang sering kutemukan makin membuatku eneg melanjutkan pembicaraan seputar penjajakan tersebut dan memintanya memendam ide konyolnya untuk memperistriku serta menganggapku teman saja setelah itu say good bye dan ga’ kontak selama berhari-hari.
Hari kedua, ketiga kok tiba-tiba aku ingat dengan dia yang sedang menunaikan ibadah haji Tahun itu. Ada sedikit keinginan yang tersirat untuk minta maaf atas kesinisan yang aku lontarkan kepadanya. Computer di rumahku bervirus so aku berinisiatif untuk menscan saja tapi kok lama banget dan karena kecapekan aku tinggal tidur. Pada pukul 2:30 pm aku terbangun karena kedinginan, coba cek terperatur ternyata sampai 9° C pantesan kok selimut satu ga cukup. Karena sudah terlanjur bangun aku liat lagi computer yang sedari tadi di scan. Eh, ternyata ada approval as a friend yang pending waktu itu dah ok so aku tinggal klik finish dan bersiap-siap tidur lagi. Ternyata langsung di balas, dia say hello gitu. Yah karena kesempatan ga’ datang dua kali aku mamfaatkan saja untuk minta maaf. Untung dia ga marah, eh malah kami keterusan chatting sampai pagi dan berenti setelah dia yang bekerja di kantor haji ingin berangkat kerja. Di sela-sela itulah aku menemukan keseriusannya taaruf dan setuju untuk berkenalan lebih jauh. Aku pikir tidak ada salahnya mencoba, hitung-hitung tambah teman dan pengalaman. Setelah pembicaraan yang seru tersebut akhirnya sambil tanya-tanya siapa dirinya aku menemukan salah satu ganjalan yang amat serius yang serta merta membuatku berpikir dua kali untuk melanjutkan hubungan yang lebih serius. Aku mengemukakan keberatan itu dan dianya setuju dan tidak ingin memaksaku setelah sebelumnya berjanji akan mencoba datang ke negara yang aku tinggali.
Kebetulan salah satu tempat transit pesawat yang akan membawanya ke Maroko adalah Qatar tempat aku bermukim bersama orang tuaku. Dengan memamfaatkan 8 jam tersebut dia berjanji mo bertemu face to face yang lazim disebut kopdar. Terus terang saja aku merasa senang tapi sekaligus bingung bagaimana seharusnya bersikap.
Dengan dirundung kebingungan akhirnya aku mencoba mengadukan masalahku dengan Sang Maha Pencipta. Entah kenapa sehabis sholat aku membuka Qur’an secara acak serta membacanya dan melihat tafsirnya, sepertinya Allah mencoba memberikan jawaban atas kebimbanganku. Aku mencoba kirim SMS kepadanya just to say hello dan mengklarifikasi apa yang aku katakan kepadanya. Selang beberapa menit dia langsung menelfonku. Aku bisa merasakan bahwa dia tidak mempersoalkan apalagi mengambil hati apa yang aku khawatirkan. Dia mencoba meyakinkanku apa yang kita lakukan ini baik selama niat kita juga baik.
Mulailah hari-kari kami di isi dengan penjajakan yang lebih jauh via YM tersebut tapi jangan coba bayangkan kami saling tukar foto atau memamfaatkan fasilitas web cam yang tersedia apalagi menggunakan headphone. Kami baru bertukar foto ketika beberapa hari sebelum dia menelfon ayahku untuk melamar aku. Sempat aku lagi-lagi merasa kebingungan bagaimana cara menyampaikan perihal ini sebab yang aku tau ayah itu paling ga suka yang namanya media chatting (buang-buang waktu katanya). Aku mencoba SMS ke ibu sembari berjalan pulang dari kantorku di malam hari. Waktu itu langsung dibalas ibu dengan kata-kata pendek menanyakan “ suku apa dia ? ” aku jawab apa adanya dan langsung dibalas lagi “keputusannya tunggu kami pulang”. Pada saat itu ayah dan ibu berencana pulang pada akhir bulan february.
Waktu yang tersisa sambil menunggu kepulangan ayah dan ibu aku mamfaatkan untuk bersih-bersih rumah sembari tetap bekerja dan sesekali kami saling contact. Jujur pada waktu itu apabila hubungan kami tak di restui oleh ayah dan ibu, aku tidak akan terlalu mempersoalkan dan berusaha mempertahankan pilihanku, “jika diterima yah memang jodoh dan jika tidak berati yah apa boleh buat” mungkin itulah yang membuatku enteng saja segera memberikan nomor telfon ayah yang lagi di Indonesia kepada dia yang ingin berkenalan dengan orang tuaku. Ketika itu tak terbayangkan orang tuaku langsung mengiyakan lamarannya terbukti dini hari pukul 3:00 waktu Qatar aku di kabari oleh dia bahwasannya dia sudah di terima oleh orang tuaku setelah hanya selang sepersekian menit lalunya dia berbicara dengan orang tuaku. Esoknya ayah langsung menelfonku dan mengatakan kepulangannya yang di percepat yaitu awal bulan February tepatnya tanggal 4 february 2006.
Selama menunggu orangtuaku pulang akupun mencari-cari info tentang menikah di Qatar sebab tak mungkin bagi kami untuk menyelanggarakan pernikahan di tanah air sebab waktu cuti ayah yang telah habis tahun itu ditambah lagi dia yang izin berada di tanah sucinya hampir habis. Segala cara kami tempuh untuk mendapatkan visa sementara untuk calon suamiku itu tapi semuanya nihil. Coba ambil visa turis ditolak sampai visa business juga tidak berhasil. Sempat terlintas keinginan untuk menikah di depan Ka’bah tetapi karena baru saja selesai haji hal itu tidak mungkin, belum lagi masalah visa bagi aku. Sempat tercetus ide gendheng calon suamiku, “bagaimana kalau kita menikah di bandara saja” ide yang langsung di tolak mentah-mentah olehku dan keluargaku “memangnya bandara itu punya nenek moyangnya?”. Aku sempat berpikir apakah hubungan kami tidak di ridhoi oleh Allah. Di setiap sujudku hanya satu yang aku pinta, yaitu jika kami masih berjodoh pertemukanlah dan jika tidak jauhkanlah. Aku juga heran melihat semangat ayah yang tetap keukeuh meneruskan usahanya agar kami menikah, padahal melihat saja belum pernah. Ibuku menggodaku katanya “jangan-jangan kakinya panjang sebelah” . Waktu itu juga pekerjaan ayah sangat banyak. Setiap hari ayah selalu pulang pagi karena shif malam dan siangnya langsung ke KBRI Doha yang jarak tempuhnya sejam dengan kecepatan yang full. Kami memang tinggal jauh dari ibukota, tepatnya di Al Khor. Akhirnya di carilah win-win solution, kami tetap menikah tetapi akulah yang akan ke negara tempat dia tinggal atau Maroko. Kata ayah hitung-hitung jalan-jalan sambil liat bagaimana tempat tinggal anaknya. Pada akhir February calon suamiku melakukan perjalanan pulangnya ke negara tempat dia bermukim dan kami merencanakan bertemu di airport Qatar tempatnya aka transit nanti selama 8 jam. Jam 8:00 pm aku di jemput ayahku untuk ke airport tapi apa yang terjadi sungguh di luar dugaan. Jangankan jalan-jalan bersama, sekedar bertatap muka saja kami tidak di bolehkan petugas bandara serta imigrasi. Pihak kami dan dia telah memohon tetapi tidak di kabulkan. Sempat tercetus ide bertemu karena ingin menyampaikan dokumen penting tetapi kata polisi bandara itu “if you want to give it by yourself I can’t give you permition but I can give to the another person in charge of it”. Kataku lagi “but sir it’s an important document and I want to give it personally”. dan dia menjawab “listen not only you can’t go there even I can’t go there”. akhirnya kami hanya bertelefon ria saja selama disana. Hujan rintik-rintik menyertai keberangkatannya ke Maroko malam itu.
Setelah pertemuan kami yang gagal total itu, aku masih di hadapkan oleh masalah pekerjaanku. Bosku yang wanita berkebangsaan Mesir itu berkata “Arita, why you never tell me before? It’s a must to tell to the office two or one month before you want to resign So we can seek another person to replace your position” langsung aku jawab “ listen Mrs. Dalia, how can I tell you one or two month before even I know him not yet one month!” dia berkata “are you sure Arita? Ok but I just want to say that you will remember the time you work here and then you will regret your decition and someday you want to come back here again” (ok, okey sekarang jadi pengen balik lagi, ). Langsung aku di sibukan dengan mengatur dokumen lagi memberi tahu kepada asisten yang lainnya serta mentraining calon asisten yang akan menggantikan aku.
Semua temanku terkejut dengan berita pernikahanku termasuk Yuli yang tidak pernah kuberi tahu sebelumnya. Ibuku menyiapkan perpisahan ala kadarnya bagi ibu-ibu sekitar kompleks aku tinggal dan juga teman-temanku. Bosku yang bernama Dalia tersebut tak kalah sibuk, dia juga mempersiapkan perpisahan di sebuah club di area kompleks kami dan aku boleh mengundang siapa saja teman-temanku. Waktuku habis dengan urusan tersebut bahkan mengepak pakaianpun aku lakukan dibantu ibu dan teman ibuku pada malam sebelum keberangkatanku. Adik laki-lakiku yang bernama Dicky tidak bisa ikut ke pestaku di Maroko karena dia sudah cuti sekolah tiga bulan lamanya mengikuti ibuku sebelumnya. Abang dan adikku yang lainya juga tidak bisa pergi.
Mulailah pencarian tiket ke Maroko dan Alhamdulillah masalah yang satu ini di permudah. Begitu juga ayah, dia mendapat cuti emergency selama seminggu. Kami membooking tiket yang bertanggal 2 bulan Maret pukul 1:00 am dini hari. Tak pernah terpikirkan olehku seperti apa dan bagaimana persiapan pernikahan kami yang sedianya di persiapkan oleh calon suamiku di Maroko sana. Aku hanya sempat membeli beberapa keperluan yang urgen saja selama di Qatar karena waktu kami di habiskan dengan urusan visa dan tetek bengek persiapan dokumen pernikahan.
Perjalanan yang berdurasi 8 jam itu dari Qatar kemudian transit ke Libya baru kemudian langsung ke Maroko itu kujalani dengan santai dan tenang. Di sampingku duduk dua orang pria berkebangsaan India yang hendak berlibur ke Maroko karena kebetulan aku berada pada kursi yang mempunyai tiga dudukan di tengah pesawat. Kursi sandaran pesawatku yang ga’ bisa di mundurkan tidak juga membuat aku resah, yang ada aku tertidur nyenyak sepanjang perjalanan. Akhirnya setelah sempat delay 2 jam, pada pukul 10:00 am kami menginjakkan kaki ke bumi Ibnu Batuta tersebut.
Dari jauh aku melihat calon suamiku beserta dua orang temannya menjemput. Aku heran ga’ ada perasaan deg-degan seperti yang selama ini aku alami jika pertama kali bertemu dengan orang. Sepertinya kami sudah lama sekali bertemu dan sudah akrab padahal itulah kali pertama aku bertemu muka dengannya. Dengan orangtuaku juga dia langsung akrab bahkan dia langsung mengendong adikku yang bungsu. Sedianya akad nikah di langsungkan pada malam harinya pada jam 19:00 waktu setempat. Maka perjalanan satu jam dari airport Muhammad V Casablanca tersebut berjalan mulus sampai ke ibukota negara tersebut yang bernama Rabat.
Pada jam 11:00 am sampailah kami ke rumah yang di sewa calon suamiku. Rumah tersebut tepat berada diatas rumah sekaligus sekretariat PPI (persatuan pelajar Indonesia). Rumah tersebut beralamat di Yacoub Mansour, Kamra, Rabat. Segala persiapan penikahan baik itu masak-masak dan dekorasi di lakukan di sekretariat PPI dengan koki-koki dan tenaga artistik yang langsung didatangkan dari tanah air tercinta alias pelajar yang berkuliah di Maroko tersebut. Sebagian besar dari mereka adalah para pria yang bersekolah baik itu di perguruan tinggi di ibukota Rabat, Fes’, Meknes, Tetouan, Marrakesh, ataupun Kenitra. Mereka semua berjumlah tak lebih dari 60 orang saja. Memang populasi warga negara Indonesia yang bermukim di Maroko relative sedikit. Setelah mahasiswa hanya ada lima diplomat serta DUBES : Bapak Syahwin Adenan. Mereka masing-masing menempati posisi : politik yaitu oleh Bapak Andy Dirgahayu Yudyachandra, perdagangan dan ekonomi : Bapak Aznur Syamsu, Pensosbud: Bapak Rully F. Sukarno, Komunikasi dan keamanan : Alm. Djuman Farid, TU dan perlengkapan: Ibu Sriyana.
Pernikahan sederhana kami terjadi pada tanggal 2 - 3 – 2006 di Rabat ibukota Maroko yang berada pada benua Afrika sebelah utara atau yang terkenal dengan sebutan Al Magribi. Saat itu pada jam 19 :00 waktu setempat suamiku mengucapkan akad pernikahan kami dengan wali nikah Ayahku sendiri beserta dua orang saksi nikah yaitu sdr. Muqni Affan yang juga adalah sahabat suamiku dan Alm. Bapak Djuman Farid (lapangkanlah kuburnya, amin). Penghulu dari KBRI adalah bapak Mas’ud Thahir.
Alhamdulillah akad nikah kami berjalan dengan lancar ditengah-tengah serangan jet lag yang aku alami karena perbedaan waktu Qatar dan Maroko adalah 4 jam jadi ketika acara pernikahan berlangsung adalah waktu tidurku. Jadilah selama acara berlangsung aku hanya tunduk saja menahan kantuk yang menyerang disamping malu karena jadi pusat perhatian.
Akhirnya acara pernikahan ditutup pada pukul 11:00 pm. Acara besok di lanjut dengan jalan-jalan ke kota-kota Maroko yang meliputi Rabat, Casablanca, Tanger dan Tetouan dan setelah seminggu berada di Maroko akhirnya Ayah dan ibu beserta adikku yang bungsu meninggalkan kami ke Qatar. Maka lembaran-lembaran kehidupan baru kami sebagai sepasang suami istri yang jauh dirantau dimana juga di sibukkan dengan proses perkenalan segera dimulai.
Banyak yang aku alami, suka dan duka dalam mengarungi bahtera pernikahan kami yang hampir menginjak tahun keempat dan Alhamdulillah dia seperti yang aku perkirakan dulu dan yang selalu ada di dalam doaku…
Tuesday, December 15, 2009
Facebook Badge
The beginning of making this blog
Maroko atau al-Magrib (Morocco: Inggris), pada awalnya sungguh tidak pernah terpikirkan autor untuk mengunjunginya apalagi sampai menetap di negeri yang sangat asing tersebut bahkan sangat jarang terdengar oleh telinga dan sedikit pun tidak pernah terbetik di hati saya untuk mengunjunginya.
Ia terletak di benua Afrika bagian utara, berbatasan dengan negara: Spanyol di sebelah utara, Aljazair di sebelah timur, Mauritania di sebelah selatan dan di bagian sisi baratnya membentang lebar samudera Atlantik hingga ke benua Amerika. Jarak dari Indonesia sendiri ditempuh 18 jam perjalanan via airplane.
Maroko menyimpan sejuta kenangan yang hampir dipastikan tidak akan saya lupakan seumur hidup. Bagaimana tidak, di negeri Ibnu Batouta tersebutlah penulis bertemu, menikah dan mengarungi empat tahun bahtera perkawinan. Negerinya sangat eksotik sayang untuk dilupakan begitu saja berlalu termakan waktu.
Tujuan awal penulisan blog ini adalah pengenalan dan penggalian budaya masyarakat setempat (Maroko red) serta dokumentasi perjalanan saya selama merantau di negeri tersebut. Berbekal dengan pengalaman tinggal selama empat tahun tersebut serta keinginan kuat untuk mendokumentasikan cerita-cerita unik pelengkap koleksi foto serta budaya dan tradisi masyarakat setempatlah membuat saya sedikit nekat untuk menuliskan blog pertama saya ini.
Saya memilih Judul "Untaian Cerita dari al-Magribi", untuk mendokumentasikan setiap perjalanan penulis ke daerah-daerah tertentu serta objek unik yang penulis tidak pernah jumpai dimanapun baik di Qatar, tempat bermukim penulis sebelumnya seperti sistem jual beli dan Driyal yang berlaku serta sempat membuat keki dan kelimpungan penulis.
Saya sangat mengharapkan blog ini dapat menjadi semacam buku 'pintar' yang berisi info-info singkat yang dibutuhkan orang yang ingin berkunjung ke negara tersebut juga dapat menjadi tour naratif yang deskriktif sehingga seolah-olah pembaca dapat merasakan 'aroma' Maroko serta menyelami pengalaman saya.
Banyak sekali hal-hal yang sangat layak kita ketahui tentang Maroko, bagaimana tidak Indonesia sebagai Negara Islam terbesar harus tahu tentang sejarah peradaban Andalusia yang sangat lama serta kokoh yang berada di sebagian daerah Maroko. Juga dari segi tokoh-tokoh baik ilmuwan, penjelajah dan pejuang yang mengharumkan segenap persada dunia Islam pada khususnya adalah orang Maroko. Hubungan emosional masyarakat Maroko dan Indonesia yang sangat dekat juga dirasakan penulis sebagai alasan tepat penulisan blog ini. Bagaimana tidak dahulunya proklamator kita dan raja Mohammed V berkarib dekat sampai-sampai terdapat penamaan jalan yang mengambil nama 'Jakarta', 'Bandoeng' serta 'Soekarno' begitu pula terdapat nama tempat 'Casablanca' yang sebenarnya adalah nama salah satu kota penting di Maroko.
Mungkin selama ini terbetik dalam benak kita bahwa universitas Islam yang tertua di dunia adalah Al Azhar-Cairo padahal ditilik dari sejarah ternyata universitas Al Karawiyyin di kota Fes telah berdiri kokoh 120 tahun sebelum Al Azhar serta adalah salah satu alumninya seorang pemimpin gereja katolik tertinggi Vatikan-Roma yaitu Paus Paulus Salvatore VIII!!!.
Arita Agustina Med HATTA
