"Bumi Allah amatlah luas maka hijrahlah... Jauh berjalan banyak dilihat ..."
Tuesday, September 10, 2013
Kontrakan di Maroko dari Masa ke Masa
Monday, September 9, 2013
Homesick edisi Marrakesh plus travelling murah ala kami
Wednesday, February 24, 2010
Bontot vs Botot
Rahmad : Mak…besok amat mau bawa botot
Mamak : apa mat siapa yang suruh? (dengan wajah keheranan)
Rahmad : kan amat pulang lama dan ada kegiatan ekstrakurikuler
Mamak : (belum ngeh juga, dalam hati buat apa ya…!)
Rahmad : nanti amat lapar mak…
Mamak : oohh..itu bukan botot mat tapi bontot
Jadi botot tersebut artinya adalah barang bekas dan bontot adalah bekal makanan (sedikit berbeda memang dengan bahasa sehari-hari yang kita ketahui bontot = bungsu)
Monday, February 1, 2010
Panas-panas tahi ayam
Satu DVD seharga 7 dh tetep aja mau beli lagi walaupun harus berkorban cuma makan telur dadar saja. Masa dua bulan berlalu dan koleksi DVDku sudah membumbung tinggi yang kalo di nominalkan ke dirham mencapai 500 dh dan hobiku telah mencapai titik klimaksnya. Alias dah jenuh, bosen dan akhirnya menyesal sendiri. Coba aku punya kontrol yang kuat pasti itu uang dah bisa dimamfaatkan untuk keperluan lain (hiks..hiks). Pernah aku coba bilang ke suami kenapa saat itu ga’ ngelarang aku abis-abisan. Eh tanpa dinyana dia cuma komentar pendek aja yang bikin sebel. “yah…nanti pasti berenti sendiri, kan sifatmu seperti yang diatas (aku masih tidak rela menuliskannya) ntar klo di tahan-tahan juga pasti ngamuk-ngamuk ga’ jelas”. Atau dilain waktu dia berkata “gimana klo itu DVD di barter aja sama DVD yang baru” atau juga dia bilang “coba gelar aja di pinggir jalan untuk di tawarin ke orang-orang yang lewat berapa aja” ( bener-bener bukan solusi dan bikin kesal kan atau mo cari pasal?). Penyesalan memang selalu datang terlambat. Sesuatu yang sudah terjadi tidak bisa kita kembalikan ke keadaan semula.
Nah teman-teman sekarang saya lagi tergila-gila dengan Youtube dan seperti biasa pasti terulang seperti yang sudah-sudah. Suami hanya tersenyum-senyum penuh arti memandang aktivitas istrinya itu. Dalam hati aku berkata jangan-jangan aku begitu juga dengan suami (eh ga’ ding, gila aja!) I still love you n I will always, honey…
Tuesday, January 19, 2010
Practice
Aku punya adek laki-laki yang saat itu baru berumur 8 tahun. Dia bersekolah di International School di Qatar. Waktu itu dia baru saja duduk di kelas tiga elementary. Dia mempunyai curiosity yang sangat tinggi. Pada suatu hari sepulang sekolah biasanya setelah membuka sepatu dan meletakkan sepatu di rak di depan pintu masuk, dia langsung masuk ke rumah. Ibu yang ingin keluar rumah setelah sebelumnya tidak menyadari keberadaannya tersenyum-senyum melihat tingkah adekku yang satu itu. Ibu memergoki dia sedang mematut dirinya mengenakan sandal high heels yang baru saja kubeli. Ibu bertanya “mo apa pake kaya’ gitu ki? Itu kan punya anak girl”. Dia menjawab “adek mo practice” (mungkin dia hueran ya, bagaimana cara perempuan berjalan dengan memakai hak tinggi kali ya….)
Satu hari di dua negara

Sebenarnya hal ini sudah lama berlalu sekitar empat tahun yang lalu tapi kemarin ketika aku bercerita dengan suamiku akhirnya aku teringat lagi dan berencana mendokumentasikan cerita ini. Seperti yang pernah aku tuliskan bahwa aku pernah bekerja di Qatar padahal saat itu aku hanya berencana tinggal selama enam bulan saja jadi otomatis visa pun hanya diurus untuk tinggal selama enam bulan saja tidak lebih.
Semua jadi berubah semenjak aku di terima bekerja ketika baru tiga bulan tinggal di sana. Ayah dan ibu tidak ingin kesempatan kerjaku melayang begitu saja. Mereka mengurus perpanjangan izin tinggalku. Peraturan keimigrasian Qatar sangatlah ketat konon seorang temanku yang melebihi izin tinggalnya disana dikenakan charge 200 QR sehari (bener-benar bikin bangkrut).
Diputuskan bahwa aku akan keluar dari Qatar sebentar saja kemudian masuk lagi sehingga aku mendapatkan izin tinggal otomatis selama satu bulan jadi akan ada waktu untuk orangtuaku mengurus izin tinggal yang sebenarnya alias resident permit. Waktu itu aku kerja masuk siang yaitu jam tiga sore jadi orangtuaku berencana untuk mengeluarkan aku ke negara terdekat yaitu Bahrain pada jam sembilan pagi. Aku tidak akan berlama-lama di Bahrain melainkan hanya di bandara saja demi mendapatkan cap keluar Qatar dan direncanakan hanya sekitar 25 menit saja disana serta kemudian melanjutkan perjalanan kembali ke Qatar.
Sesampainya disana aku langsung cepat-cepat mencari gate keberangkatan yang sudah tertulis di boarding passku setelah sebelumnya tak lupa singgah ke duty free untuk membeli kenang-kenangan khas Bahrain untuk ibuku. Beliau kebetulan sedang mengoleksi benda-benda yang berbau luar negeri seperti miniatur gelas. Ketika sampai di gate aku hanya melihat sedikit orang yang menunggu pesawat ke Qatar kembali dan mereka semuanya kelihatan tenang-tenang saja padahal jam berangkat tinggal sebentar lagi. Aku beranikan untuk bertanya kepada seorang wanita yang duduk disebelahku akan kemana dia. Betapa terkejutnya aku ketika dia berkata akan ke Beirut (ibukotanya Libanon red). Paniklah aku dan segera bertanya kepada petugas bandara. Mereka lalu mengantarkan aku ke tempat check in dan langsung ke depan pintu pesawat. Ternyata tanpa sepengetahuanku gate keberangkatan telah diganti jadi tidak sesuai dengan yang tertulis di boarding pass dan aku dengan bodohnya tidak melihat pengumuman lagi.
Uniknya pesawat yang aku tumpangi untuk pergi dan kembali lagi adalah pesawat yang sama, bahkan pramugarinya saja menyapa aku dan berkata ‘’nice to meet you again’’hehehehe. Tidak sampai satu jam akhirnya aku sudah menginjakkan kaki lagi di Qatar dengan selamat dan tepat pada pukul tiga aku langsung pergi ke kantorku dan bekerja seperti tidak ada yang terjadi. Oh…thanks pada penemu pesawat yang membuat perjalanan semakin singkat.
source pic; http://conanzedo.files.wordpress.com/2008/07/pic01.jpg
Thursday, January 14, 2010
Karena kakak bukan laki-laki

Pada tahun 2006 akhir aku pulang berlibur ke Indonesia. Saat itu suamiku sedang haji dan karena tidak punya teman di Maroko akhirnya aku pulang. Pada saat itu di rumah ada tante, dua om, ibu, empat adekku serta nenek. Tak lama ibu memintaku menjaga rumah serta adek-adek karena ibu akan pergi menyusul ayah ke Qatar karena suatu urusan.
Waktu itu suasana sedang tidak enak. Ibu pergi dengan meninggalkan masalah yang menurutku besar. Akupun terkena imbasnya. Kesalah pahaman itupun berujung dengan klimaks yang tidak sangat mengenakkan. Ditengah hawa panas pertengkaran tersebut seseorang (bukan aku lho) melontarkan kata-kata yang sangat tidak pantas. “Kon***l “ (maaf ya !).
Setelah reda dan masing-masing diam adekku yang bernama dicky menghampiri Dicky:kak Tina….kak Tina (dia selalu gitu kalo mo ngomong serius) kon***l itu apa (dengan mimik polos)
Tina: Aku terkejut. Segera kujawab “itu adalah punya laki-laki”
Dicky: Hhhhah (dengan muka syok)
Berpikir sebentar dan berkata : “adek marah!!(dengan muka ga’ rela) kak Tina sama nenek di bilang kek gitu”
Dalam hati wah bisa juga nih anak ngebela kakaknya tapi temans kata-kata selanjutnya ga’ kuku banget deh.
Dicky: (mendekat dan agak berbisik)“kalo adek yang di bilang, adek ga’ marah tapi kan kak Tina ma nenek ga punya itu makanya adek marah (gubraks kirain mo bilang apa)
Wednesday, January 13, 2010
Tragedi karet gelang kuning

Dulu banget waktu aku kelas satu SD di Taman Siswa di tanah rencong punya teman sebangku yang bernama Irwan, panggilannya Iwan. Iwan anak yang lumayan pandai, pintar bersosialisasi dan little bit good looking. Dia memiliki kulit yang putih makanya banyak anak-anak cewek yang suka cari-cari perhatiannya. Hampir setiap pose (waktu sekitar 10 menitan untuk istirahat bagi siswa-siswi pada pergantian kelas) dimamfaatkan para siswi untuk main ke bangku Iwan atau mereka berhahahihi keluar kelas.
Pada suatu hari tidak biasanya si Iwan ini tidak keluar dan beranjak sedikitpun dari bangkunya. Penuhlah meja kami dengan kedatangan “kupu-kupu” yang ingin mendekati si Iwan tersebut (masih SD dah naksir-naksiran). Kebetulan juga aku hari itu males kemana-mana dan memutuskan untuk memakan bekal makan siangku di bangku aja. Hari itu si Iwan yang membawa bekal dua tangkup roti tawar yang di taburi meises dan olesan mentega kelihatan gelisah dan tidak kunjung memakan bekalnya. Mulailah si cewek-cewek yang sedari tadi mengerumuni “sang kumbang” membuka kotak bekalnya dan menyuapinya. Mereka berbincang-bincang sambil nyuekin aku yang duduk disamping si playboy dadakan tersebut.
Cewek2 :Iwan…iwan kalian lapar ya? Mo kami suapin ga? (kebiasaan orang di Aceh tersebut adalah mengatakan saya dengan kami dan kamu dengan kalian)
Iwan :iya kami lapar, boleh lah
Cewek2 : (hahahihi ga’ jelas )
Tak berapa lama aku yang ga’ punya basa-basi ini berbicara dengan si Iwan
Aku : Wan…itu apa yang kuning-kuning di dekat celana kalian?
Iwan : Mana? Oh itu karet gelang warna kuning (sounds right)
Aku belum merasa puas dan tak lama mencium bau yang tidak sedap serta entah kenapa melihat kebawah
Aku : eh…Iwan beol ya? (dengan pandangan menuduh dan suara keras tak mampu menyembunyikan rahasia) pantesan bau!
Serta-merta si Irwan nangis keras (mungkin malu kali) dan sepasukan cewek-cewek pergi menjauh dan guru langsung datang dan menyelesaikan masalah tersebut.
Sorry ya wan di certain…abis lucu sih…
Source pic:
http://www.google.co.ma/imgres?imgurl=http://wb3.itrademarket.com/pdimage/75/615975_karetgelangpentilkw2.jpg&imgrefurl=http://pkperdamaian.indonetwork.co.id/615975/karet-gelang-pentil.htm&h=500&w=666&sz=31&tbnid=3S626bjwh-VV0M:&tbnh=104&tbnw=138&prev=/images%3Fq%3Dgambar%2Bkaret%2Bgelang&hl=fr&usg=__GHL8p1w3WdlmD-e0S7g7Qx_HKBw=&ei=tRFOS4vPOZiW_QbNn7inBw&sa=X&oi=image_result&resnum=7&ct=image&ved=0CBMQ9QEwBg
Friday, January 8, 2010
Dulu dari guruku
Dulu waktu masih SD aku sering di beri tugas oleh guruku membuat kerajinan tangan atau hasta karya seperti bikin bunga, boneka, menyulam, dll. Tidak hanya membikin suatu karya tetapi oleh guruku yang kreatif itu kami kadang disuruh memperagakan bagaimana cara menyuci yang baik, mengepel lantai dan membersihkan kuningan.
Cukup membawa satu kuningan dirumah yang bernoda dan selanjutnya di kerjakan disekolah atas pengawasan guru tersebut. Caranya yaitu gosok kuningan tersebut dengan abu gosok sampai noda di kuningan hilang, cuci bersih dan gosok dengan jeruk nipis. Niscaya kuningan tersebut bersih. Eeeeeeh sampai di rumah karena kagum dengan hasilnya akhirnya ibuku menyuruh aku membersihkan peralatan kuningan di rumah. Benar-benar pelajaran yang berguna, Terima kasih guruku...Jasamu tidak akan terlupakan...
Syarat Pengurusan Surat Nikahku
Seperti pada postingan yang lalu* bahwa saya dan suami saya menikah di Maroko karena ketidakmungkinan kami menikah di negara sendiri alias Indonesia. Hal itu disebabkan banyak halangan yaitu: ayahku baru saja mengambil cuti panjang, calon suamiku yang masih kuliah di Maroko itu lagi di Saudi untuk menunaikan ibadah haji yang mana rencananya akan ke Qatar untuk menikah disana namun segala usaha kami untuk mendapatkan visa gagal maka diputuskanlah kami akan menikah di negara tempat suamiku itu bermukim dengan catatan ayah mengambil cuti lagi namun hanya cukup seminggu saja.
Pada saat itu kami langsung sibuk mengurus segala sesuatunya yang dibutuhkan untuk menikah terutama pengurusan berbagai dokumen yang akan dipakai sebagai syarat kami menikah yaitu:
1.fotocopy Paspor kedua calon pengantin beserta wali pengantin perempuan (ayahku sendiri) beserta VISA (jika ada).
2.Surat Persetujuan untuk menikah (dua versi yaitu bahasa Indonesia dan Arab (sesuai bahasa tempat bermukim).
3.Avidavit (kartu keluarga) yang di keluarkan KBRI setempat (waktu itu aku tinggal di Qatar bersama ortu).
4.Permohonan numpang nikah WNI dari KBRI tempat bermukim (Qatar) ke KBRI yang dituju (Maroko).
5.Surat keterangan status suami.
6.Surat kesediaan orang tua untuk menikahkan anaknya bagi kedua belah pihak.
7.Pasphoto 3x4 sebanyak 6 lembar.
8.Biaya buku nikah.
* Cerita pertemuanku
Facebook Badge
The beginning of making this blog
Maroko atau al-Magrib (Morocco: Inggris), pada awalnya sungguh tidak pernah terpikirkan autor untuk mengunjunginya apalagi sampai menetap di negeri yang sangat asing tersebut bahkan sangat jarang terdengar oleh telinga dan sedikit pun tidak pernah terbetik di hati saya untuk mengunjunginya.
Ia terletak di benua Afrika bagian utara, berbatasan dengan negara: Spanyol di sebelah utara, Aljazair di sebelah timur, Mauritania di sebelah selatan dan di bagian sisi baratnya membentang lebar samudera Atlantik hingga ke benua Amerika. Jarak dari Indonesia sendiri ditempuh 18 jam perjalanan via airplane.
Maroko menyimpan sejuta kenangan yang hampir dipastikan tidak akan saya lupakan seumur hidup. Bagaimana tidak, di negeri Ibnu Batouta tersebutlah penulis bertemu, menikah dan mengarungi empat tahun bahtera perkawinan. Negerinya sangat eksotik sayang untuk dilupakan begitu saja berlalu termakan waktu.
Tujuan awal penulisan blog ini adalah pengenalan dan penggalian budaya masyarakat setempat (Maroko red) serta dokumentasi perjalanan saya selama merantau di negeri tersebut. Berbekal dengan pengalaman tinggal selama empat tahun tersebut serta keinginan kuat untuk mendokumentasikan cerita-cerita unik pelengkap koleksi foto serta budaya dan tradisi masyarakat setempatlah membuat saya sedikit nekat untuk menuliskan blog pertama saya ini.
Saya memilih Judul "Untaian Cerita dari al-Magribi", untuk mendokumentasikan setiap perjalanan penulis ke daerah-daerah tertentu serta objek unik yang penulis tidak pernah jumpai dimanapun baik di Qatar, tempat bermukim penulis sebelumnya seperti sistem jual beli dan Driyal yang berlaku serta sempat membuat keki dan kelimpungan penulis.
Saya sangat mengharapkan blog ini dapat menjadi semacam buku 'pintar' yang berisi info-info singkat yang dibutuhkan orang yang ingin berkunjung ke negara tersebut juga dapat menjadi tour naratif yang deskriktif sehingga seolah-olah pembaca dapat merasakan 'aroma' Maroko serta menyelami pengalaman saya.
Banyak sekali hal-hal yang sangat layak kita ketahui tentang Maroko, bagaimana tidak Indonesia sebagai Negara Islam terbesar harus tahu tentang sejarah peradaban Andalusia yang sangat lama serta kokoh yang berada di sebagian daerah Maroko. Juga dari segi tokoh-tokoh baik ilmuwan, penjelajah dan pejuang yang mengharumkan segenap persada dunia Islam pada khususnya adalah orang Maroko. Hubungan emosional masyarakat Maroko dan Indonesia yang sangat dekat juga dirasakan penulis sebagai alasan tepat penulisan blog ini. Bagaimana tidak dahulunya proklamator kita dan raja Mohammed V berkarib dekat sampai-sampai terdapat penamaan jalan yang mengambil nama 'Jakarta', 'Bandoeng' serta 'Soekarno' begitu pula terdapat nama tempat 'Casablanca' yang sebenarnya adalah nama salah satu kota penting di Maroko.
Mungkin selama ini terbetik dalam benak kita bahwa universitas Islam yang tertua di dunia adalah Al Azhar-Cairo padahal ditilik dari sejarah ternyata universitas Al Karawiyyin di kota Fes telah berdiri kokoh 120 tahun sebelum Al Azhar serta adalah salah satu alumninya seorang pemimpin gereja katolik tertinggi Vatikan-Roma yaitu Paus Paulus Salvatore VIII!!!.
Arita Agustina Med HATTA

.jpg)











