Showing posts with label Memoriku. Show all posts
Showing posts with label Memoriku. Show all posts

Tuesday, September 10, 2013

Kontrakan di Maroko dari Masa ke Masa



Awal-awal kehidupan pernikahan kami di rantau negari “1000 Benteng” mengharuskan kami untuk mengontrak apartemen. Kami juga sempat berpindah dari satu kota ke kota-kota penting lainnya di Maroko, permanen dan temporer. Secara permanen dua kali dan temporer dua kali juga. Kota yang pertama kali tempat kami mengontrak adalah Rabat, ibukota negara Maroko. Kemudian Casabalanca (di dua tempat yaitu Riad Ulfa dan hay Hassani), Mdiq, dan yang terakhir Martil didaerah Catalan.

#Periode awal RABAT  (2006-pertengahan 2007)
Hajj Abdessalam’s Appartement
Kami melangsungkan pernikahan di apartemen pertama ini, lokasi tepat berada di atas  sekretariat PPI (Persatuan Pelajar Indonesia). Rumah seorang purnawirawan polisi berpangkat menengah yaitu Hajj Abdelssalam tersebut dibandrol MAD 1500/bulan belum termasuk listrik dan air. Berada di lantai tiga dengan banyak tangga yang rada gelap dan lumayan curam. Diatasnya ada chotoh (lantai terbuka paling atas yang multi fungsi) terkadang kami para perantau Indonesia sering menggunakannya sebagai tempat berpesta cotelette (Iga kambing yang di bakar) namun fungsi aslinya adalah tempat menjemur pakaian.

Dengan fasilitas sambungan jaringan internet yang cepat dari PPI membuat kami betah berada di rumah ini sampai 11 bulan lamanya. Kamar aslinya ada tiga namun hanya dibuka satu saja plus ruang tamu yang cukup besar yang akhirnya kami fungsikan sebagai guest room merangkap sebagai tempat acara tertentu. Berlantaikan ubin besar berwarna cokelat yang masih sangat terjaga serta ciamik dengan dinding yang dilapisi keramik bermotif Zellige. Dapur yang lumayan serta tolilet kecil cukup memuaskan kami selama berada disana.

Rumah inilah tempat yang paling berkesan dalam sejarah pernikahan kami karena, disinilah suamiku mengucapkan akad pernikahan kami dulu. Rumah ini juga sering di fungsikan sebagai aula serbaguna kecil-kecilan untuk menampung acara PPI yang agak susah di selenggarakan di sekretariatnya.

Asma’s house
Rumah kontrakan kedua masih berada dalam kota Rabat namun lebih dekat dari pasar Kamra (pasar tradisional red.) serta terpisah kira-kira 5 menit berjalan kaki dari sekretariat PPI. Sebut  sajalah rumah ini dimiliki oleh Asma yang sebenarnya anak owner rumah. Pemiliknya sangat ramah kepada kami dan tak segan-segan mengundang makan Cous-cous serta sewaktu anaknya menikah kamipun diundang pula, padahal dalam tradisi Maroko, mereka tidak pernah mengundang orang luar untuk berpesta walaupun bertetangga.

Kamarnya berbentuk studio dengan panjang (4 x 6) yang kami bagi dua yaitu tempat tidur dan ruang tamu. Dapur dan toilet terpisah dari kamar. Lantainya keseluruhan kami lapisi tikar berwarna biru muda.  Lama kami mengontrak adalah enam bulan saja, bukan karena kami tidak betah namun karena pekerjaan suami yang banyak di kota Casablanca membuat akhirnya kami menyudahi masa mukim di kota sejuta kenangan yaitu Rabat.

#Temporary Stay (Pertengahan 2007)
Madam Shoha’s Flat
Tempat yang ketiga ini berada jauh dari ibukota Maroko namun berada pada kota pantai yang cukup populer dikawasan utara Maroko yaitu Mdiq (Rincon nama pemberian Prancis) namun populer dengan kedua nama tersebut. Kami menyewa rumah tersebut dikarenakan sedang mengikuti pameran di daerah resor pantai Marina Smir yang cukup dekat dari Mdiq.

Rumah yang becat putih tersebut memiliki dua kamar yang cukup besar dengan fully furnished perabotan. Tempat yang sangat strategis ini dibanderol MAD 4500 per bulan tampa extra charge listrik dan air. Memang harga yang cukup fantastis tapi begitulah kota ini jika musim panas. Keberadaan turis asing yang membawa Euro itu benar-benar dimamfaatkan warga setempat untuk mendulang rejeki. Tak jauh dari rumah itu ada corniche yang terbuka untuk umum dan sederetan restaurant yang seolah-olah hidup 24 jam. Disirami sinar lampu yang kelap-kelip membuat kota ini makin tampak indah.

Oh ya dari atas Chotoh nya (lantai lima)  kita bisa melihat pemandangan laut Mediterania yang tembus kedaratan Spanyol yang luar biasa indah.  Lama menyewa kurang lebih satu bulan.

Second Mdiq app
Merasa sangat kemahalan dengan harga sewa kontrakan yang pertama maka kami mencari kontrakan lainnya yang lebih ramah dengan kantong kami. Awalnya adalah kontrakan harian seorang teman yang sudah habis masanya lalu kami perpanjang kembali.

Rumah ini cukup mungil dengan hanya satu kamar dan ruang tamu serta dapur yang isinya cukup komplit. Kamar mandinya berair panas yang terasa mewah bagi kami. Pemiliknya juga sangat ramah yang terkadang membantuku menjemurkan pakaian hingga mengirimkan cous-cous mereka. Di ruang tamu juga tredapat sdader dengan tv yang salurannya cukup lengkap rata-rata dari eropa. Harga sewa dihitung perhari yaitu MAD 100/malam.

#Periode kedua di Casablanca
Abdul Mjid’s House
Setelah pulang dari kota musim panas di Mdiq dan membereskan kepindahan kami yang perdana di kota Casa (sebutan Casablanca bagi masyarakat setempat)  kamipun mendapat kontrakan baru yang sangat besar yaitu di daerah Bourgone, Goulmima. Sebuah tempat yang lumayan elit bagi masyarakat Maroko kalangan menengah ke atas. Daerah itu juga sangat dekat dengan Masjid Hasan II kebanggaan Maroko dan terntunya La Foire (gedung pameran) yang akan sering kami kunjungi. 

Rumah ini mempunyai dua kamar tidur, balcon, dapur yang besar, gudang serta dua ruang tamu terpisah yang cukup besar. Rumah ini semi furnish. Pemiliknya orang Maroko berkebangsaan Prancis yang sering bolak-balik hampir setiap bulan dari Prancis. Rumah ini juga mempunyai kamar mandi dan ada bathtub nya beralirkan air panas. Ada juga toilet terpisah yang isinya wc saja. Lama kami mengontrak kurang lebih 8 bulan. Adapun sewanya MAD 3500 belum termasuk air dan listrik serta jasa zindik (staf pengamanan rumah)’

Riad ulfa Appartement
Setelah pindah dari keramaian kota kami mencoba peruntungan di tempat yang namanya Riad Ulfa, sebuah kompleks dekat corniche Ain Diab yang baru saja dibangun.  Dilantai empat itulah kami akhirnya menempati apartemen ini selama tiga bulan lamanya. Mempunyai tiga kamar yang cukup besar dengan dua ruang tamu yang terpisah serta toilet dan wc terpisah membuat rumah ini terasa sangat mewah bagi kami.

Seluruh rumah dilengkapi fasilitas intercom yang dapat membuka pintu gerbang secara otomatis tampa harus turun kebawah membawa kunci. Dapurnya pun cukup luas dengan cahaya matahari yang bebas menerobos membuat rumah ini cukup menjajikan pada awalnya. Sebelum menempati rumah ini kami diberi tahu akan adanya fasilitas lift yang memang ada bentuknya namun ternyata belum berfungsi. Bukan tidak suka namun tinggi tangganya yanga curam membuat kami sangat kecapaian jika harus turun naik tangga maka kamipun segera pindah ketempat lain.

Mohamed’s App
Muter-muter cari kontrakan yang pas dihati dan dikantong akhirnya kami menemukan rumah mungil dengan banderol MAD 1500/bulan. Memang mencari kontrakan di kota Casa gampang-gampang susah. Gampangnya ada simsar (calo rumah) yang dengan siap sedia membantu kita asalkan fee nya sesuai, ada lo yang minta satu bulan harga kontrakan nah ini yang harus benar-benar dibicarakan sebelum memulai memakai jasa mereka. Susahnya mencari kontrakan yang seharga MAD 1500 itu tadi, yang merupakan harga kontrakan kalangan bawah masyarakat. Ada juga biasanya daerah suburb.

Kami memulai ngontrak dirumah terakhir pengembaraan kami di kota Casa ini nov 2008 dan keluar akhir bulan february 2010 dikarenakan kepulangan kami ke tanah air. Rumah mungil ini terdiri dari satu kamar tidur, ruang tamu yang cukup besar, dapur, balkon tempat menjemur, serta toilet yang sebenarnya isinya hanya wc saja. Perlu diketahui bahwa warga Maroko tidak terbiasa mandi di rumah namun di tempat sauna yang bernama Hammam atau shower air panas yang bernama Douche.

Rumah ini cukup berkesan bagi kami karena inilah rumah yang terlama kami tempati dan pemiliknya sangat baik. Selain tidak seperti orang Maroko kebanyakan yang tidak akan mentolerir keterlambatan uang sewa, bapak sepuh yang berprofesi sebagai kontraktor ini pernah memberikan paha bawah kambing utuh kepada kami untuk dimakan di hari raya serta mengundang suamiku di acara pernikahan anaknya (khusus acara laki-laki). 

Kalangan tetangga yang cukup baik dan tidak terlalu berisik membuat kami betah plus ada warung yang biasanya menjadi tempat utangan di kala kami sedang bokek (say hai to Brahim, moga makin dipermudah dan diperluas rezekinya ya, amin). Minusnya didaerah ini tidak ada masjid yang cukup dekat dari kami namun masyarakat setempat selalu menggelar salat berjamaah di pelataran depan pertokoan. Di daerah ini juga ada bekas dam kecil yang hampir tidak ada airnya namun menjadi tempat berkembang biaknya beberapa burung yang sangat indah dilihat dikala sore dan pagi hari.

The last temporary App (Madam Sa’diyah)
Kepulangan kami yang tinggal sebulan lebih kami mamfaatkan untuk napak tilas lagi kedaerah study suamiku, Tetouan. Sayang pada saat itu kami tidak mendapatkan rumah di daerah tersebut namun sebagai gantinya kami ngontrak selama sebulan di rumah madam Sa’diyah di daerah Martil (catalan). Madam itu tidak pernah bisa mengucapkan namaku dengan benar, dia selalu memanggilku dengan sebutan “Dina” padahal berkali-kali aku katakan namaku “Tina” tapi ya sudalah namanya sudah sepuh akhirnya aku membiarkan dia memanggilku dengan sebutan itu.

Di banderol dengan MAD 1000/bulan hanya untuk kamar dan toilet serta joining kitchen adalah harga yang mahal namun kami tidak punya pilihan lain daripada stay di hotel. Didalam kamar itu hanya terdapat lemari dan dua sdader  mungil difungsikan sebagai tempat tidur yang saling berhadapan serta toilet yang cukup mewah, sepertinya tempat yang disewakan kepada kami adalah kamar tidur madam tersebut. Ada pula chotoh yang digunakan untuk menjemur pakaian dilantai teratas.  Plusnya dari kontrakan tersebut kami hanya perlu jalan kaki tak kurang dari 10 menit saja untuk sampai di corniche yang terbuka untuk umum. Masih didaerah tersebut juga kami menemukan benteng peninggalan kolonial yang masih terpelihara tepat di tengah-tengah pasar dan ada juga gedung perpustakaan yang bangunannya masih berbentuk bangunan asli zaman penjajahan dan masih sangat terpelihara. Hampir tiap hari kami temukan para turis dari Eropa yang membawa mobil karavan singgah di kota ini sekedar muter-muter saja.

Kota ini memang kota kecil yang akan habis diputari selama sejam dengan berjalan kaki namun bagi kami kenangannya takkan terlupakan sepanjang masa. Tepat tanggal 15 April 2010 kami pun pamit kepada si Madam dan pada tanggal 17 April 2010 kami pun take off dari bandara Mohamed V di Casa, meninggalkan sejuta kisah yang tidak akan hilang dimakan waktu.
Ket Gambar: (1-2) Pemandangan Sekitar Rumah Rabat, (3) Mesjid Hassan II,Dekat Rmh Borgogne (4) Ain Diab/ Pemandangan Dekat Rumah Riad Ulfa, (5) Pemandangan Dekat Rumah Hy Hassani

Ket Gambar: (1-2) Pemandangan Sekitar Rmh Mdiq, (3) Pemandangan Sekitar Rmh Catalan - Martil

Monday, September 9, 2013

Homesick edisi Marrakesh plus travelling murah ala kami



Waktu ditawari seorang teman untuk melihat-lihat tempat pameran di Marrakech dan karena perjalanan tidak makan waktu seharian maka kami pikir ah.... tak ada salahnya mencoba toh ini hanya survey belaka. Kamipun membawa pakaian ganti seadanya serta barang pameran ala kadarnya bahkan aku masih meninggalkan jemuran yang belum diangkat dirumah. Saat itu musim panas di Maroko dan menjadi surga bagi para pengejar pameran. Memang keinginan ikut juga karena aku belum pernah ke Marrakesh maka kami mantapkan ikut saja. Sesampainya disana ternyata barang pameran belum di tata dan harus dipindahkan maka kami plus teman bekerja memindahkan barang yang ternyata makan waktu seharian.

Selesai pameran hari pertama barulah kami berfikir untuk mencari tempat penginapan ala kadarnya yah..... sukur-sukur dapat hotel murah atau pergi ketempat teman yang juga bermukim di daerah tersebut namun pikiran itu segera kami singkirkan mengingat tidak cukupnya uang dan teman yang di kota itu ternyata perempuan yang ga’ mungkin menampung kami suami isteri. Baliklah kami dengan langkah gontai ke dalam pameran tersebut dan mencari panitia untuk meminta izin menginap di dalamnya apalagi diluar saat itu hujan lumaya deras, tak ada pilihan lain bagi kami.

Didalam lapak ternyata sudah ada kasur, alat masak sederhana, buta gas (tabung gas mini) ala Maroko dan tak makan waktu lama kami segera tertidur karena kecapaian. Esok harinya sambil menunggu teman yang tak kunjung datang juga maka kami mamfaatkan untuk muter-muter lokasi pameran sembari cari inspirasi maklum pameran baru akan di mualai sore hari. Saat itu tidak ada pikiran ternyata hari itupun kami harus menginap lagi.

Hal yang paling kutakutkan adalah perut Indonesiaku ini yang tidak bisa makan selain nasi untuk menghilangkan lapar tapi ajaibnya selama disana saya bisa tahan makan roti isi mortadella, telur dan susu selama seminggu berturut-turut.

Apa selama seminggu itu kami menginap di lokasi pameran? Yup karena lokasi yang cukup jauh dan tidak adanya bus maka kami mau tak mau harus menginap di tempat tersebut, malamnya kami jualan dan siangnya kami muter-muter keliling Marrakesh yang pada saat itu panasnya nauzubillah. Baru keluar sebentar maka langsung keluar keringat layaknya sauna saja.

Mandi sederhana alias siram-siram seadanya kami lakukan didalam tempat pameran (tempat jualan) beruntung alasnya kayu yang berpori-pori.  Toilet yang ada tidak mungkin kami mamfaatkan karena jika siang ramai dan tidak ada penerangan dikala malam. Kami hanya memakai pakaian yang itu-itu saja untung saya membawa baju ganti (daster tidur) yang nyaman dan tertutup. Pada malam harinya kami membakar dupa untuk menutupi hawa-hawa yang tidak sedap (hehhehe) benar-benar tidak ada pilihan bagi kami, daruratlah pokonya. Meninggalkan lokasi untuk tidur ditempat lain bukanlah option yang baik karena kami juga harus menjaga keamanan barang jualan.

Keesokan harinya kami memulai petualangan menjelajahi Marrakesh yaitu ke Djema El Afna yaitu pasar tradiasional masyarakat yang kabarnya sangat ramai di kala malam hari. Bermacam-macam benda dapat ditemukan disana dan berjenis-jenis aliran sulap bisa kita tonton yang anehnya semua ramai pengunjung. Dikarenakan siang maka tidak adalah hal yang kami ingin lihat segeralah kami pergi ke Masjid terdekat Koutubia yaitu Masjid tertua di Marrakesh yang sangat indah.  

Hari kedua kami pergi ketaman yang bernama Jardine Menara di daerah seputaran Guelliz. Tempat tersebut adalah kebun buah zaitun yang sudah berusia ratusan bahkan kabarnya ada yang ribuan tahun. Seperti katanya buah zaitun itu tahan lama dan mampu bertahan dalam waktu yang lama dan bahkan sudah mati batangnya dapat menumbuhkan tunasnya kembali, subhanallah. Di taman tersebut kami temukan atribun yang ternyata tempat melihat-lihat pohon zaitun dan pohon kurma yang banyak ditanam disana. Ditengah-tengah atribun ada kolam besar yang saya tidak tau ada ikannya atau tidak. Tepat di depan kolam ada villa indah yang sayangnya tidak dibuka pada saat itu yang kabarnya milik penguasa pada saat itu. Banyak orang yang menawarkan menunggang unta dengan banyaran tertentu disana. Setelah mutar-mutar dan minum maka kamipun pulang ke pameran berharap ketemu teman yang akan menjemput kami.

Malang berkata ternyata teman yang dinanti tak datang maka kami tetap berjualan seperti biasa dan cuma bisa berharap ini yang paling baik bagi kami seraya berplanning akan ke Jardine Majorelle esok harinya.

Dengan menaiki taxi kami hanya berkata ke Jardine Majorelle pak! Wah ternyata bapaknya salah paham dikiranya hotel yang namanya Majorelle juga terpaksalah kami jalan kaki sampe agak nyasar tapi untung juga ketemu taman yang dimaksud tersebut. Didalamnya dapat dijumpai banyak jenis kaktus dari berbagai benua koleksi Monsiour Majorelle. Kami juga menemukan makam desainer terkenal asal Prancis YSL (Yves Saint Laurent) yang ternyata adalah pemilik jardin tersebut. Pulanglah kami dengan hati plong dan adem berharap kali ini si teman menampakkan batang hidungnya. Ternyata sampai hampir selesai pameran takkunjung datang sementara lapak pameran belum dibayarkan ke panitia. Mualailah kami panik dan mencari alternatif lain untuk pulang. Kami mencoba pulang begitu saja toh lapak dipesan bukan atas nama kami dan barang kami tidak seberapa hanya beberapa kotak kecil saja.Hasilnyapun habis buat makan dan plesir saja. Ternyata rencana kepulangan kami diketahui dan kadung aja kami dilarang pulang serta disuruh menunggu teman kami. Pada malam harinya ternyata syukur Alhamdulillah datang juga teman tersebut dan berjanji membawa kami pulang. Maka dengan menaiki mobilnya kami pada tengah malam langsung dipulangkan ke kota Casablanca dan sampai pada pagi harinya. Walaupun jemuran sudah seperti krupuk yang siap di goreng sambil tersenyum kami tetap bahagia dipulangkan kerumah setelah seminggu. Look at the positive side setidaknya sudah bisa jalan-jalan murah ke Marrakesh. Ah.....syukur tak terhingga pada Allah tak ada tempat yang lebih nyaman selain Home sweet home....:)

Wednesday, February 24, 2010

Bontot vs Botot

Dulu sewaktu aku masih kelas enam SD aku tinggal di Sumatra Utara tepatnya di Pasar bengkel, Perbaungan. Daerah tersebut masih merupakan bagian dari Kabupaten Deli Serdang. Di tempat baru tersebut tentu saja cara, adat istiadat serta penuturan orang berbeda dengan tempat tinggal kami yang sebelumnya, Aceh Utara. Ada dua macam suku kata yang waktu itu sangat mirip dan selalu membuat kami terbalik-balik menggunakannya terutama abangku yang bernama Rahmad yang hampir selalu salah menggunakannya dalam kalimat.
Rahmad : Mak…besok amat mau bawa botot
Mamak : apa mat siapa yang suruh? (dengan wajah keheranan)
Rahmad : kan amat pulang lama dan ada kegiatan ekstrakurikuler
Mamak : (belum ngeh juga, dalam hati buat apa ya…!)
Rahmad : nanti amat lapar mak…
Mamak : oohh..itu bukan botot mat tapi bontot
Jadi botot tersebut artinya adalah barang bekas dan bontot adalah bekal makanan (sedikit berbeda memang dengan bahasa sehari-hari yang kita ketahui bontot = bungsu)

Monday, February 1, 2010

Panas-panas tahi ayam

Wah judulnya jorok banget ya ? bukan-bukan aku tidak akan mendeskripsikan seperti apa tahi ayam itu…ya teksturnya, bentuknya, warnanya bahkan rasanya (ga’ banget deh). Dulu adikku sering mengatakan ungkapan diatas adalah kata-kata yang tepat dan sangat pantas serta match untuk mendeskripsikan tentangku. Bukan-bukan aku bukan produk akhir dari pencernaan ayam tersebut tapi ya…sifatku yang begitu. Misalnya saja saat ini aku tergila-gila (baca candu) dengan DVD. Dalam sehari aku bisa membeli lima DVD sekaligus dan menontonnya saat itu juga sampai mata pedih, padahal minus mataku dah banyak dan kalo bisa jangan sampe tambah lagi deh. Setelah itu bosan dan memutuskan untuk beli lagi tampa mempertimbangkan logika meski saat itu uang di kantong (baca total kekayaan tinggal 30 dh).

Satu DVD seharga 7 dh tetep aja mau beli lagi walaupun harus berkorban cuma makan telur dadar saja. Masa dua bulan berlalu dan koleksi DVDku sudah membumbung tinggi yang kalo di nominalkan ke dirham mencapai 500 dh dan hobiku telah mencapai titik klimaksnya. Alias dah jenuh, bosen dan akhirnya menyesal sendiri. Coba aku punya kontrol yang kuat pasti itu uang dah bisa dimamfaatkan untuk keperluan lain (hiks..hiks). Pernah aku coba bilang ke suami kenapa saat itu ga’ ngelarang aku abis-abisan. Eh tanpa dinyana dia cuma komentar pendek aja yang bikin sebel. “yah…nanti pasti berenti sendiri, kan sifatmu seperti yang diatas (aku masih tidak rela menuliskannya) ntar klo di tahan-tahan juga pasti ngamuk-ngamuk ga’ jelas”. Atau dilain waktu dia berkata “gimana klo itu DVD di barter aja sama DVD yang baru” atau juga dia bilang “coba gelar aja di pinggir jalan untuk di tawarin ke orang-orang yang lewat berapa aja” ( bener-bener bukan solusi dan bikin kesal kan atau mo cari pasal?). Penyesalan memang selalu datang terlambat. Sesuatu yang sudah terjadi tidak bisa kita kembalikan ke keadaan semula.

Nah teman-teman sekarang saya lagi tergila-gila dengan Youtube dan seperti biasa pasti terulang seperti yang sudah-sudah. Suami hanya tersenyum-senyum penuh arti memandang aktivitas istrinya itu. Dalam hati aku berkata jangan-jangan aku begitu juga dengan suami (eh ga’ ding, gila aja!) I still love you n I will always, honey…

Tuesday, January 19, 2010

Practice


Aku punya adek laki-laki yang saat itu baru berumur 8 tahun. Dia bersekolah di International School di Qatar. Waktu itu dia baru saja duduk di kelas tiga elementary. Dia mempunyai curiosity yang sangat tinggi. Pada suatu hari sepulang sekolah biasanya setelah membuka sepatu dan meletakkan sepatu di rak di depan pintu masuk, dia langsung masuk ke rumah. Ibu yang ingin keluar rumah setelah sebelumnya tidak menyadari keberadaannya tersenyum-senyum melihat tingkah adekku yang satu itu. Ibu memergoki dia sedang mematut dirinya mengenakan sandal high heels yang baru saja kubeli. Ibu bertanya “mo apa pake kaya’ gitu ki? Itu kan punya anak girl”. Dia menjawab “adek mo practice” (mungkin dia hueran ya, bagaimana cara perempuan berjalan dengan memakai hak tinggi kali ya….)

Satu hari di dua negara


Sebenarnya hal ini sudah lama berlalu sekitar empat tahun yang lalu tapi kemarin ketika aku bercerita dengan suamiku akhirnya aku teringat lagi dan berencana mendokumentasikan cerita ini. Seperti yang pernah aku tuliskan bahwa aku pernah bekerja di Qatar padahal saat itu aku hanya berencana tinggal selama enam bulan saja jadi otomatis visa pun hanya diurus untuk tinggal selama enam bulan saja tidak lebih.

Semua jadi berubah semenjak aku di terima bekerja ketika baru tiga bulan tinggal di sana. Ayah dan ibu tidak ingin kesempatan kerjaku melayang begitu saja. Mereka mengurus perpanjangan izin tinggalku. Peraturan keimigrasian Qatar sangatlah ketat konon seorang temanku yang melebihi izin tinggalnya disana dikenakan charge 200 QR sehari (bener-benar bikin bangkrut).

Diputuskan bahwa aku akan keluar dari Qatar sebentar saja kemudian masuk lagi sehingga aku mendapatkan izin tinggal otomatis selama satu bulan jadi akan ada waktu untuk orangtuaku mengurus izin tinggal yang sebenarnya alias resident permit. Waktu itu aku kerja masuk siang yaitu jam tiga sore jadi orangtuaku berencana untuk mengeluarkan aku ke negara terdekat yaitu Bahrain pada jam sembilan pagi. Aku tidak akan berlama-lama di Bahrain melainkan hanya di bandara saja demi mendapatkan cap keluar Qatar dan direncanakan hanya sekitar 25 menit saja disana serta kemudian melanjutkan perjalanan kembali ke Qatar.

Sesampainya disana aku langsung cepat-cepat mencari gate keberangkatan yang sudah tertulis di boarding passku setelah sebelumnya tak lupa singgah ke duty free untuk membeli kenang-kenangan khas Bahrain untuk ibuku. Beliau kebetulan sedang mengoleksi benda-benda yang berbau luar negeri seperti miniatur gelas. Ketika sampai di gate aku hanya melihat sedikit orang yang menunggu pesawat ke Qatar kembali dan mereka semuanya kelihatan tenang-tenang saja padahal jam berangkat tinggal sebentar lagi. Aku beranikan untuk bertanya kepada seorang wanita yang duduk disebelahku akan kemana dia. Betapa terkejutnya aku ketika dia berkata akan ke Beirut (ibukotanya Libanon red). Paniklah aku dan segera bertanya kepada petugas bandara. Mereka lalu mengantarkan aku ke tempat check in dan langsung ke depan pintu pesawat. Ternyata tanpa sepengetahuanku gate keberangkatan telah diganti jadi tidak sesuai dengan yang tertulis di boarding pass dan aku dengan bodohnya tidak melihat pengumuman lagi.

Uniknya pesawat yang aku tumpangi untuk pergi dan kembali lagi adalah pesawat yang sama, bahkan pramugarinya saja menyapa aku dan berkata ‘’nice to meet you again’’hehehehe. Tidak sampai satu jam akhirnya aku sudah menginjakkan kaki lagi di Qatar dengan selamat dan tepat pada pukul tiga aku langsung pergi ke kantorku dan bekerja seperti tidak ada yang terjadi. Oh…thanks pada penemu pesawat yang membuat perjalanan semakin singkat.


source pic; http://conanzedo.files.wordpress.com/2008/07/pic01.jpg

Thursday, January 14, 2010

Karena kakak bukan laki-laki


Pada tahun 2006 akhir aku pulang berlibur ke Indonesia. Saat itu suamiku sedang haji dan karena tidak punya teman di Maroko akhirnya aku pulang. Pada saat itu di rumah ada tante, dua om, ibu, empat adekku serta nenek. Tak lama ibu memintaku menjaga rumah serta adek-adek karena ibu akan pergi menyusul ayah ke Qatar karena suatu urusan.

Waktu itu suasana sedang tidak enak. Ibu pergi dengan meninggalkan masalah yang menurutku besar. Akupun terkena imbasnya. Kesalah pahaman itupun berujung dengan klimaks yang tidak sangat mengenakkan. Ditengah hawa panas pertengkaran tersebut seseorang (bukan aku lho) melontarkan kata-kata yang sangat tidak pantas. “Kon***l “ (maaf ya !).

Setelah reda dan masing-masing diam adekku yang bernama dicky menghampiri Dicky:kak Tina….kak Tina (dia selalu gitu kalo mo ngomong serius) kon***l itu apa (dengan mimik polos)

Tina: Aku terkejut. Segera kujawab “itu adalah punya laki-laki”
Dicky: Hhhhah (dengan muka syok)
Berpikir sebentar dan berkata : “adek marah!!(dengan muka ga’ rela) kak Tina sama nenek di bilang kek gitu”

Dalam hati wah bisa juga nih anak ngebela kakaknya tapi temans kata-kata selanjutnya ga’ kuku banget deh.
Dicky: (mendekat dan agak berbisik)“kalo adek yang di bilang, adek ga’ marah tapi kan kak Tina ma nenek ga punya itu makanya adek marah (gubraks kirain mo bilang apa)

Wednesday, January 13, 2010

Tragedi karet gelang kuning


Dulu banget waktu aku kelas satu SD di Taman Siswa di tanah rencong punya teman sebangku yang bernama Irwan, panggilannya Iwan. Iwan anak yang lumayan pandai, pintar bersosialisasi dan little bit good looking. Dia memiliki kulit yang putih makanya banyak anak-anak cewek yang suka cari-cari perhatiannya. Hampir setiap pose (waktu sekitar 10 menitan untuk istirahat bagi siswa-siswi pada pergantian kelas) dimamfaatkan para siswi untuk main ke bangku Iwan atau mereka berhahahihi keluar kelas.

Pada suatu hari tidak biasanya si Iwan ini tidak keluar dan beranjak sedikitpun dari bangkunya. Penuhlah meja kami dengan kedatangan “kupu-kupu” yang ingin mendekati si Iwan tersebut (masih SD dah naksir-naksiran). Kebetulan juga aku hari itu males kemana-mana dan memutuskan untuk memakan bekal makan siangku di bangku aja. Hari itu si Iwan yang membawa bekal dua tangkup roti tawar yang di taburi meises dan olesan mentega kelihatan gelisah dan tidak kunjung memakan bekalnya. Mulailah si cewek-cewek yang sedari tadi mengerumuni “sang kumbang” membuka kotak bekalnya dan menyuapinya. Mereka berbincang-bincang sambil nyuekin aku yang duduk disamping si playboy dadakan tersebut.

Cewek2 :Iwan…iwan kalian lapar ya? Mo kami suapin ga? (kebiasaan orang di Aceh tersebut adalah mengatakan saya dengan kami dan kamu dengan kalian)
Iwan :iya kami lapar, boleh lah
Cewek2 : (hahahihi ga’ jelas )
Tak berapa lama aku yang ga’ punya basa-basi ini berbicara dengan si Iwan
Aku : Wan…itu apa yang kuning-kuning di dekat celana kalian?
Iwan : Mana? Oh itu karet gelang warna kuning (sounds right)
Aku belum merasa puas dan tak lama mencium bau yang tidak sedap serta entah kenapa melihat kebawah
Aku : eh…Iwan beol ya? (dengan pandangan menuduh dan suara keras tak mampu menyembunyikan rahasia) pantesan bau!

Serta-merta si Irwan nangis keras (mungkin malu kali) dan sepasukan cewek-cewek pergi menjauh dan guru langsung datang dan menyelesaikan masalah tersebut.
Sorry ya wan di certain…abis lucu sih…
Source pic:
http://www.google.co.ma/imgres?imgurl=http://wb3.itrademarket.com/pdimage/75/615975_karetgelangpentilkw2.jpg&imgrefurl=http://pkperdamaian.indonetwork.co.id/615975/karet-gelang-pentil.htm&h=500&w=666&sz=31&tbnid=3S626bjwh-VV0M:&tbnh=104&tbnw=138&prev=/images%3Fq%3Dgambar%2Bkaret%2Bgelang&hl=fr&usg=__GHL8p1w3WdlmD-e0S7g7Qx_HKBw=&ei=tRFOS4vPOZiW_QbNn7inBw&sa=X&oi=image_result&resnum=7&ct=image&ved=0CBMQ9QEwBg

Friday, January 8, 2010

Dulu dari guruku


Dulu waktu masih SD aku sering di beri tugas oleh guruku membuat kerajinan tangan atau hasta karya seperti bikin bunga, boneka, menyulam, dll. Tidak hanya membikin suatu karya tetapi oleh guruku yang kreatif itu kami kadang disuruh memperagakan bagaimana cara menyuci yang baik, mengepel lantai dan membersihkan kuningan.
Cukup membawa satu kuningan dirumah yang bernoda dan selanjutnya di kerjakan disekolah atas pengawasan guru tersebut. Caranya yaitu gosok kuningan tersebut dengan abu gosok sampai noda di kuningan hilang, cuci bersih dan gosok dengan jeruk nipis. Niscaya kuningan tersebut bersih. Eeeeeeh sampai di rumah karena kagum dengan hasilnya akhirnya ibuku menyuruh aku membersihkan peralatan kuningan di rumah. Benar-benar pelajaran yang berguna, Terima kasih guruku...Jasamu tidak akan terlupakan...

Syarat Pengurusan Surat Nikahku


Seperti pada postingan yang lalu* bahwa saya dan suami saya menikah di Maroko karena ketidakmungkinan kami menikah di negara sendiri alias Indonesia. Hal itu disebabkan banyak halangan yaitu: ayahku baru saja mengambil cuti panjang, calon suamiku yang masih kuliah di Maroko itu lagi di Saudi untuk menunaikan ibadah haji yang mana rencananya akan ke Qatar untuk menikah disana namun segala usaha kami untuk mendapatkan visa gagal maka diputuskanlah kami akan menikah di negara tempat suamiku itu bermukim dengan catatan ayah mengambil cuti lagi namun hanya cukup seminggu saja.
Pada saat itu kami langsung sibuk mengurus segala sesuatunya yang dibutuhkan untuk menikah terutama pengurusan berbagai dokumen yang akan dipakai sebagai syarat kami menikah yaitu:
1.fotocopy Paspor kedua calon pengantin beserta wali pengantin perempuan (ayahku sendiri) beserta VISA (jika ada).
2.Surat Persetujuan untuk menikah (dua versi yaitu bahasa Indonesia dan Arab (sesuai bahasa tempat bermukim).
3.Avidavit (kartu keluarga) yang di keluarkan KBRI setempat (waktu itu aku tinggal di Qatar bersama ortu).
4.Permohonan numpang nikah WNI dari KBRI tempat bermukim (Qatar) ke KBRI yang dituju (Maroko).
5.Surat keterangan status suami.
6.Surat kesediaan orang tua untuk menikahkan anaknya bagi kedua belah pihak.
7.Pasphoto 3x4 sebanyak 6 lembar.
8.Biaya buku nikah.
* Cerita pertemuanku
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Facebook Badge

The beginning of making this blog

Maroko atau al-Magrib (Morocco: Inggris), pada awalnya sungguh tidak pernah terpikirkan autor untuk mengunjunginya apalagi sampai menetap di negeri yang sangat asing tersebut bahkan sangat jarang terdengar oleh telinga dan sedikit pun tidak pernah terbetik di hati saya untuk mengunjunginya.

Ia terletak di benua Afrika bagian utara, berbatasan dengan negara: Spanyol di sebelah utara, Aljazair di sebelah timur, Mauritania di sebelah selatan dan di bagian sisi baratnya membentang lebar samudera Atlantik hingga ke benua Amerika. Jarak dari Indonesia sendiri ditempuh 18 jam perjalanan via airplane.

Maroko menyimpan sejuta kenangan yang hampir dipastikan tidak akan saya lupakan seumur hidup. Bagaimana tidak, di negeri Ibnu Batouta tersebutlah penulis bertemu, menikah dan mengarungi empat tahun bahtera perkawinan. Negerinya sangat eksotik sayang untuk dilupakan begitu saja berlalu termakan waktu.

Tujuan awal penulisan blog ini adalah pengenalan dan penggalian budaya masyarakat setempat (Maroko red) serta dokumentasi perjalanan saya selama merantau di negeri tersebut. Berbekal dengan pengalaman tinggal selama empat tahun tersebut serta keinginan kuat untuk mendokumentasikan cerita-cerita unik pelengkap koleksi foto serta budaya dan tradisi masyarakat setempatlah membuat saya sedikit nekat untuk menuliskan blog pertama saya ini.

Saya memilih Judul "Untaian Cerita dari al-Magribi", untuk mendokumentasikan setiap perjalanan penulis ke daerah-daerah tertentu serta objek unik yang penulis tidak pernah jumpai dimanapun baik di Qatar, tempat bermukim penulis sebelumnya seperti sistem jual beli dan Driyal yang berlaku serta sempat membuat keki dan kelimpungan penulis.

Saya sangat mengharapkan blog ini dapat menjadi semacam buku 'pintar' yang berisi info-info singkat yang dibutuhkan orang yang ingin berkunjung ke negara tersebut juga dapat menjadi tour naratif yang deskriktif sehingga seolah-olah pembaca dapat merasakan 'aroma' Maroko serta menyelami pengalaman saya.

Banyak sekali hal-hal yang sangat layak kita ketahui tentang Maroko, bagaimana tidak Indonesia sebagai Negara Islam terbesar harus tahu tentang sejarah peradaban Andalusia yang sangat lama serta kokoh yang berada di sebagian daerah Maroko. Juga dari segi tokoh-tokoh baik ilmuwan, penjelajah dan pejuang yang mengharumkan segenap persada dunia Islam pada khususnya adalah orang Maroko. Hubungan emosional masyarakat Maroko dan Indonesia yang sangat dekat juga dirasakan penulis sebagai alasan tepat penulisan blog ini. Bagaimana tidak dahulunya proklamator kita dan raja Mohammed V berkarib dekat sampai-sampai terdapat penamaan jalan yang mengambil nama 'Jakarta', 'Bandoeng' serta 'Soekarno' begitu pula terdapat nama tempat 'Casablanca' yang sebenarnya adalah nama salah satu kota penting di Maroko.

Mungkin selama ini terbetik dalam benak kita bahwa universitas Islam yang tertua di dunia adalah Al Azhar-Cairo padahal ditilik dari sejarah ternyata universitas Al Karawiyyin di kota Fes telah berdiri kokoh 120 tahun sebelum Al Azhar serta adalah salah satu alumninya seorang pemimpin gereja katolik tertinggi Vatikan-Roma yaitu Paus Paulus Salvatore VIII!!!.

Arita Agustina Med HATTA