Showing posts with label Jalan-jalan. Show all posts
Showing posts with label Jalan-jalan. Show all posts

Tuesday, September 10, 2013

Kontrakan di Maroko dari Masa ke Masa



Awal-awal kehidupan pernikahan kami di rantau negari “1000 Benteng” mengharuskan kami untuk mengontrak apartemen. Kami juga sempat berpindah dari satu kota ke kota-kota penting lainnya di Maroko, permanen dan temporer. Secara permanen dua kali dan temporer dua kali juga. Kota yang pertama kali tempat kami mengontrak adalah Rabat, ibukota negara Maroko. Kemudian Casabalanca (di dua tempat yaitu Riad Ulfa dan hay Hassani), Mdiq, dan yang terakhir Martil didaerah Catalan.

#Periode awal RABAT  (2006-pertengahan 2007)
Hajj Abdessalam’s Appartement
Kami melangsungkan pernikahan di apartemen pertama ini, lokasi tepat berada di atas  sekretariat PPI (Persatuan Pelajar Indonesia). Rumah seorang purnawirawan polisi berpangkat menengah yaitu Hajj Abdelssalam tersebut dibandrol MAD 1500/bulan belum termasuk listrik dan air. Berada di lantai tiga dengan banyak tangga yang rada gelap dan lumayan curam. Diatasnya ada chotoh (lantai terbuka paling atas yang multi fungsi) terkadang kami para perantau Indonesia sering menggunakannya sebagai tempat berpesta cotelette (Iga kambing yang di bakar) namun fungsi aslinya adalah tempat menjemur pakaian.

Dengan fasilitas sambungan jaringan internet yang cepat dari PPI membuat kami betah berada di rumah ini sampai 11 bulan lamanya. Kamar aslinya ada tiga namun hanya dibuka satu saja plus ruang tamu yang cukup besar yang akhirnya kami fungsikan sebagai guest room merangkap sebagai tempat acara tertentu. Berlantaikan ubin besar berwarna cokelat yang masih sangat terjaga serta ciamik dengan dinding yang dilapisi keramik bermotif Zellige. Dapur yang lumayan serta tolilet kecil cukup memuaskan kami selama berada disana.

Rumah inilah tempat yang paling berkesan dalam sejarah pernikahan kami karena, disinilah suamiku mengucapkan akad pernikahan kami dulu. Rumah ini juga sering di fungsikan sebagai aula serbaguna kecil-kecilan untuk menampung acara PPI yang agak susah di selenggarakan di sekretariatnya.

Asma’s house
Rumah kontrakan kedua masih berada dalam kota Rabat namun lebih dekat dari pasar Kamra (pasar tradisional red.) serta terpisah kira-kira 5 menit berjalan kaki dari sekretariat PPI. Sebut  sajalah rumah ini dimiliki oleh Asma yang sebenarnya anak owner rumah. Pemiliknya sangat ramah kepada kami dan tak segan-segan mengundang makan Cous-cous serta sewaktu anaknya menikah kamipun diundang pula, padahal dalam tradisi Maroko, mereka tidak pernah mengundang orang luar untuk berpesta walaupun bertetangga.

Kamarnya berbentuk studio dengan panjang (4 x 6) yang kami bagi dua yaitu tempat tidur dan ruang tamu. Dapur dan toilet terpisah dari kamar. Lantainya keseluruhan kami lapisi tikar berwarna biru muda.  Lama kami mengontrak adalah enam bulan saja, bukan karena kami tidak betah namun karena pekerjaan suami yang banyak di kota Casablanca membuat akhirnya kami menyudahi masa mukim di kota sejuta kenangan yaitu Rabat.

#Temporary Stay (Pertengahan 2007)
Madam Shoha’s Flat
Tempat yang ketiga ini berada jauh dari ibukota Maroko namun berada pada kota pantai yang cukup populer dikawasan utara Maroko yaitu Mdiq (Rincon nama pemberian Prancis) namun populer dengan kedua nama tersebut. Kami menyewa rumah tersebut dikarenakan sedang mengikuti pameran di daerah resor pantai Marina Smir yang cukup dekat dari Mdiq.

Rumah yang becat putih tersebut memiliki dua kamar yang cukup besar dengan fully furnished perabotan. Tempat yang sangat strategis ini dibanderol MAD 4500 per bulan tampa extra charge listrik dan air. Memang harga yang cukup fantastis tapi begitulah kota ini jika musim panas. Keberadaan turis asing yang membawa Euro itu benar-benar dimamfaatkan warga setempat untuk mendulang rejeki. Tak jauh dari rumah itu ada corniche yang terbuka untuk umum dan sederetan restaurant yang seolah-olah hidup 24 jam. Disirami sinar lampu yang kelap-kelip membuat kota ini makin tampak indah.

Oh ya dari atas Chotoh nya (lantai lima)  kita bisa melihat pemandangan laut Mediterania yang tembus kedaratan Spanyol yang luar biasa indah.  Lama menyewa kurang lebih satu bulan.

Second Mdiq app
Merasa sangat kemahalan dengan harga sewa kontrakan yang pertama maka kami mencari kontrakan lainnya yang lebih ramah dengan kantong kami. Awalnya adalah kontrakan harian seorang teman yang sudah habis masanya lalu kami perpanjang kembali.

Rumah ini cukup mungil dengan hanya satu kamar dan ruang tamu serta dapur yang isinya cukup komplit. Kamar mandinya berair panas yang terasa mewah bagi kami. Pemiliknya juga sangat ramah yang terkadang membantuku menjemurkan pakaian hingga mengirimkan cous-cous mereka. Di ruang tamu juga tredapat sdader dengan tv yang salurannya cukup lengkap rata-rata dari eropa. Harga sewa dihitung perhari yaitu MAD 100/malam.

#Periode kedua di Casablanca
Abdul Mjid’s House
Setelah pulang dari kota musim panas di Mdiq dan membereskan kepindahan kami yang perdana di kota Casa (sebutan Casablanca bagi masyarakat setempat)  kamipun mendapat kontrakan baru yang sangat besar yaitu di daerah Bourgone, Goulmima. Sebuah tempat yang lumayan elit bagi masyarakat Maroko kalangan menengah ke atas. Daerah itu juga sangat dekat dengan Masjid Hasan II kebanggaan Maroko dan terntunya La Foire (gedung pameran) yang akan sering kami kunjungi. 

Rumah ini mempunyai dua kamar tidur, balcon, dapur yang besar, gudang serta dua ruang tamu terpisah yang cukup besar. Rumah ini semi furnish. Pemiliknya orang Maroko berkebangsaan Prancis yang sering bolak-balik hampir setiap bulan dari Prancis. Rumah ini juga mempunyai kamar mandi dan ada bathtub nya beralirkan air panas. Ada juga toilet terpisah yang isinya wc saja. Lama kami mengontrak kurang lebih 8 bulan. Adapun sewanya MAD 3500 belum termasuk air dan listrik serta jasa zindik (staf pengamanan rumah)’

Riad ulfa Appartement
Setelah pindah dari keramaian kota kami mencoba peruntungan di tempat yang namanya Riad Ulfa, sebuah kompleks dekat corniche Ain Diab yang baru saja dibangun.  Dilantai empat itulah kami akhirnya menempati apartemen ini selama tiga bulan lamanya. Mempunyai tiga kamar yang cukup besar dengan dua ruang tamu yang terpisah serta toilet dan wc terpisah membuat rumah ini terasa sangat mewah bagi kami.

Seluruh rumah dilengkapi fasilitas intercom yang dapat membuka pintu gerbang secara otomatis tampa harus turun kebawah membawa kunci. Dapurnya pun cukup luas dengan cahaya matahari yang bebas menerobos membuat rumah ini cukup menjajikan pada awalnya. Sebelum menempati rumah ini kami diberi tahu akan adanya fasilitas lift yang memang ada bentuknya namun ternyata belum berfungsi. Bukan tidak suka namun tinggi tangganya yanga curam membuat kami sangat kecapaian jika harus turun naik tangga maka kamipun segera pindah ketempat lain.

Mohamed’s App
Muter-muter cari kontrakan yang pas dihati dan dikantong akhirnya kami menemukan rumah mungil dengan banderol MAD 1500/bulan. Memang mencari kontrakan di kota Casa gampang-gampang susah. Gampangnya ada simsar (calo rumah) yang dengan siap sedia membantu kita asalkan fee nya sesuai, ada lo yang minta satu bulan harga kontrakan nah ini yang harus benar-benar dibicarakan sebelum memulai memakai jasa mereka. Susahnya mencari kontrakan yang seharga MAD 1500 itu tadi, yang merupakan harga kontrakan kalangan bawah masyarakat. Ada juga biasanya daerah suburb.

Kami memulai ngontrak dirumah terakhir pengembaraan kami di kota Casa ini nov 2008 dan keluar akhir bulan february 2010 dikarenakan kepulangan kami ke tanah air. Rumah mungil ini terdiri dari satu kamar tidur, ruang tamu yang cukup besar, dapur, balkon tempat menjemur, serta toilet yang sebenarnya isinya hanya wc saja. Perlu diketahui bahwa warga Maroko tidak terbiasa mandi di rumah namun di tempat sauna yang bernama Hammam atau shower air panas yang bernama Douche.

Rumah ini cukup berkesan bagi kami karena inilah rumah yang terlama kami tempati dan pemiliknya sangat baik. Selain tidak seperti orang Maroko kebanyakan yang tidak akan mentolerir keterlambatan uang sewa, bapak sepuh yang berprofesi sebagai kontraktor ini pernah memberikan paha bawah kambing utuh kepada kami untuk dimakan di hari raya serta mengundang suamiku di acara pernikahan anaknya (khusus acara laki-laki). 

Kalangan tetangga yang cukup baik dan tidak terlalu berisik membuat kami betah plus ada warung yang biasanya menjadi tempat utangan di kala kami sedang bokek (say hai to Brahim, moga makin dipermudah dan diperluas rezekinya ya, amin). Minusnya didaerah ini tidak ada masjid yang cukup dekat dari kami namun masyarakat setempat selalu menggelar salat berjamaah di pelataran depan pertokoan. Di daerah ini juga ada bekas dam kecil yang hampir tidak ada airnya namun menjadi tempat berkembang biaknya beberapa burung yang sangat indah dilihat dikala sore dan pagi hari.

The last temporary App (Madam Sa’diyah)
Kepulangan kami yang tinggal sebulan lebih kami mamfaatkan untuk napak tilas lagi kedaerah study suamiku, Tetouan. Sayang pada saat itu kami tidak mendapatkan rumah di daerah tersebut namun sebagai gantinya kami ngontrak selama sebulan di rumah madam Sa’diyah di daerah Martil (catalan). Madam itu tidak pernah bisa mengucapkan namaku dengan benar, dia selalu memanggilku dengan sebutan “Dina” padahal berkali-kali aku katakan namaku “Tina” tapi ya sudalah namanya sudah sepuh akhirnya aku membiarkan dia memanggilku dengan sebutan itu.

Di banderol dengan MAD 1000/bulan hanya untuk kamar dan toilet serta joining kitchen adalah harga yang mahal namun kami tidak punya pilihan lain daripada stay di hotel. Didalam kamar itu hanya terdapat lemari dan dua sdader  mungil difungsikan sebagai tempat tidur yang saling berhadapan serta toilet yang cukup mewah, sepertinya tempat yang disewakan kepada kami adalah kamar tidur madam tersebut. Ada pula chotoh yang digunakan untuk menjemur pakaian dilantai teratas.  Plusnya dari kontrakan tersebut kami hanya perlu jalan kaki tak kurang dari 10 menit saja untuk sampai di corniche yang terbuka untuk umum. Masih didaerah tersebut juga kami menemukan benteng peninggalan kolonial yang masih terpelihara tepat di tengah-tengah pasar dan ada juga gedung perpustakaan yang bangunannya masih berbentuk bangunan asli zaman penjajahan dan masih sangat terpelihara. Hampir tiap hari kami temukan para turis dari Eropa yang membawa mobil karavan singgah di kota ini sekedar muter-muter saja.

Kota ini memang kota kecil yang akan habis diputari selama sejam dengan berjalan kaki namun bagi kami kenangannya takkan terlupakan sepanjang masa. Tepat tanggal 15 April 2010 kami pun pamit kepada si Madam dan pada tanggal 17 April 2010 kami pun take off dari bandara Mohamed V di Casa, meninggalkan sejuta kisah yang tidak akan hilang dimakan waktu.
Ket Gambar: (1-2) Pemandangan Sekitar Rumah Rabat, (3) Mesjid Hassan II,Dekat Rmh Borgogne (4) Ain Diab/ Pemandangan Dekat Rumah Riad Ulfa, (5) Pemandangan Dekat Rumah Hy Hassani

Ket Gambar: (1-2) Pemandangan Sekitar Rmh Mdiq, (3) Pemandangan Sekitar Rmh Catalan - Martil

Monday, September 9, 2013

Homesick edisi Marrakesh plus travelling murah ala kami



Waktu ditawari seorang teman untuk melihat-lihat tempat pameran di Marrakech dan karena perjalanan tidak makan waktu seharian maka kami pikir ah.... tak ada salahnya mencoba toh ini hanya survey belaka. Kamipun membawa pakaian ganti seadanya serta barang pameran ala kadarnya bahkan aku masih meninggalkan jemuran yang belum diangkat dirumah. Saat itu musim panas di Maroko dan menjadi surga bagi para pengejar pameran. Memang keinginan ikut juga karena aku belum pernah ke Marrakesh maka kami mantapkan ikut saja. Sesampainya disana ternyata barang pameran belum di tata dan harus dipindahkan maka kami plus teman bekerja memindahkan barang yang ternyata makan waktu seharian.

Selesai pameran hari pertama barulah kami berfikir untuk mencari tempat penginapan ala kadarnya yah..... sukur-sukur dapat hotel murah atau pergi ketempat teman yang juga bermukim di daerah tersebut namun pikiran itu segera kami singkirkan mengingat tidak cukupnya uang dan teman yang di kota itu ternyata perempuan yang ga’ mungkin menampung kami suami isteri. Baliklah kami dengan langkah gontai ke dalam pameran tersebut dan mencari panitia untuk meminta izin menginap di dalamnya apalagi diluar saat itu hujan lumaya deras, tak ada pilihan lain bagi kami.

Didalam lapak ternyata sudah ada kasur, alat masak sederhana, buta gas (tabung gas mini) ala Maroko dan tak makan waktu lama kami segera tertidur karena kecapaian. Esok harinya sambil menunggu teman yang tak kunjung datang juga maka kami mamfaatkan untuk muter-muter lokasi pameran sembari cari inspirasi maklum pameran baru akan di mualai sore hari. Saat itu tidak ada pikiran ternyata hari itupun kami harus menginap lagi.

Hal yang paling kutakutkan adalah perut Indonesiaku ini yang tidak bisa makan selain nasi untuk menghilangkan lapar tapi ajaibnya selama disana saya bisa tahan makan roti isi mortadella, telur dan susu selama seminggu berturut-turut.

Apa selama seminggu itu kami menginap di lokasi pameran? Yup karena lokasi yang cukup jauh dan tidak adanya bus maka kami mau tak mau harus menginap di tempat tersebut, malamnya kami jualan dan siangnya kami muter-muter keliling Marrakesh yang pada saat itu panasnya nauzubillah. Baru keluar sebentar maka langsung keluar keringat layaknya sauna saja.

Mandi sederhana alias siram-siram seadanya kami lakukan didalam tempat pameran (tempat jualan) beruntung alasnya kayu yang berpori-pori.  Toilet yang ada tidak mungkin kami mamfaatkan karena jika siang ramai dan tidak ada penerangan dikala malam. Kami hanya memakai pakaian yang itu-itu saja untung saya membawa baju ganti (daster tidur) yang nyaman dan tertutup. Pada malam harinya kami membakar dupa untuk menutupi hawa-hawa yang tidak sedap (hehhehe) benar-benar tidak ada pilihan bagi kami, daruratlah pokonya. Meninggalkan lokasi untuk tidur ditempat lain bukanlah option yang baik karena kami juga harus menjaga keamanan barang jualan.

Keesokan harinya kami memulai petualangan menjelajahi Marrakesh yaitu ke Djema El Afna yaitu pasar tradiasional masyarakat yang kabarnya sangat ramai di kala malam hari. Bermacam-macam benda dapat ditemukan disana dan berjenis-jenis aliran sulap bisa kita tonton yang anehnya semua ramai pengunjung. Dikarenakan siang maka tidak adalah hal yang kami ingin lihat segeralah kami pergi ke Masjid terdekat Koutubia yaitu Masjid tertua di Marrakesh yang sangat indah.  

Hari kedua kami pergi ketaman yang bernama Jardine Menara di daerah seputaran Guelliz. Tempat tersebut adalah kebun buah zaitun yang sudah berusia ratusan bahkan kabarnya ada yang ribuan tahun. Seperti katanya buah zaitun itu tahan lama dan mampu bertahan dalam waktu yang lama dan bahkan sudah mati batangnya dapat menumbuhkan tunasnya kembali, subhanallah. Di taman tersebut kami temukan atribun yang ternyata tempat melihat-lihat pohon zaitun dan pohon kurma yang banyak ditanam disana. Ditengah-tengah atribun ada kolam besar yang saya tidak tau ada ikannya atau tidak. Tepat di depan kolam ada villa indah yang sayangnya tidak dibuka pada saat itu yang kabarnya milik penguasa pada saat itu. Banyak orang yang menawarkan menunggang unta dengan banyaran tertentu disana. Setelah mutar-mutar dan minum maka kamipun pulang ke pameran berharap ketemu teman yang akan menjemput kami.

Malang berkata ternyata teman yang dinanti tak datang maka kami tetap berjualan seperti biasa dan cuma bisa berharap ini yang paling baik bagi kami seraya berplanning akan ke Jardine Majorelle esok harinya.

Dengan menaiki taxi kami hanya berkata ke Jardine Majorelle pak! Wah ternyata bapaknya salah paham dikiranya hotel yang namanya Majorelle juga terpaksalah kami jalan kaki sampe agak nyasar tapi untung juga ketemu taman yang dimaksud tersebut. Didalamnya dapat dijumpai banyak jenis kaktus dari berbagai benua koleksi Monsiour Majorelle. Kami juga menemukan makam desainer terkenal asal Prancis YSL (Yves Saint Laurent) yang ternyata adalah pemilik jardin tersebut. Pulanglah kami dengan hati plong dan adem berharap kali ini si teman menampakkan batang hidungnya. Ternyata sampai hampir selesai pameran takkunjung datang sementara lapak pameran belum dibayarkan ke panitia. Mualailah kami panik dan mencari alternatif lain untuk pulang. Kami mencoba pulang begitu saja toh lapak dipesan bukan atas nama kami dan barang kami tidak seberapa hanya beberapa kotak kecil saja.Hasilnyapun habis buat makan dan plesir saja. Ternyata rencana kepulangan kami diketahui dan kadung aja kami dilarang pulang serta disuruh menunggu teman kami. Pada malam harinya ternyata syukur Alhamdulillah datang juga teman tersebut dan berjanji membawa kami pulang. Maka dengan menaiki mobilnya kami pada tengah malam langsung dipulangkan ke kota Casablanca dan sampai pada pagi harinya. Walaupun jemuran sudah seperti krupuk yang siap di goreng sambil tersenyum kami tetap bahagia dipulangkan kerumah setelah seminggu. Look at the positive side setidaknya sudah bisa jalan-jalan murah ke Marrakesh. Ah.....syukur tak terhingga pada Allah tak ada tempat yang lebih nyaman selain Home sweet home....:)

Tuesday, April 24, 2012

Ifrane


Sesuatu yang sangat special dari Negara Maroko yaitu di satu Negara ada gurun dan juga tempat yang bersalju. Masih merupakan bagian dari wilayah kota Fes, Ifrane sangat cantik untuk dikunjungi. Dari Rabat kami membutuhkan waktu kurang lebih tiga jam untuk mencapai kota Ifrane.

Kotanya bergaya Eropa yang memiliki atap yang berbentuk segitiga yang berfungsi sebagai peluruh salju. Kota Ifrane sendiri tidak terlalu besar namun sangat bersih dan sangat tertata rapi. Sepanjang jalan disana tidak ada satupun sampah yang bertebaran dijalan. Jalannya lumayan lebar dan dikiri kanan dijumpai pohon-pohon yang menambah keindahan kota ini apalagi pada saat pohon bertabur salju.   
Didaerah ini juga dapat kita temui tempat untuk bermain ski yang bernama Michlifen namun sayang ketika berkunjung kesana saya tidak dapat bermain ski dan naik ke puncak bukit karena salju sedang tipis padahal seminggu sebelumnya salju sedang tebal-tebalnya.

Tuesday, April 10, 2012

Parc de la Ligue Arabe


Di Maroko hampir tidak mungkin kita tidak menemukan taman yang merupakan tempat bersantai masyarakat apalagi di musim panas. Casablanca kota terbesar di Maroko memiliki taman publik yang bernama Lyautey atau juga biasa disebut Parc de la Ligue Arabe. Terletak di jantung kota dan berada tepat di depan Katedral Sacré Coeur.
Disana terdapat taman bermain juga sederetan café-café yang menawarkan kopi khas yang sangat lezat bisa dibilang itulah tempat gaul yang tergaul di Casablanca.

Monday, April 2, 2012

Ain Diab



Kawasan Ain Diab merupakan pantai yang ditata menjadi corniche yang berada ditepi laut Atlantik di kota Casablanca. Dimana dapat dijumpai sejumlah hotel, tempat hiburan serta restaurant disepanjang corniche tersebut. 

Pada musim panas tempat ini sangat padat dikunjungi oleh wisatawan domestik dan manca negara. Semua berjemur menikmati cahaya matahari yang berlimpah seharian sambil bermain olah raga pantai atau sekedar bercengkrama, tua dan muda baik laki-laki maupun perempuan.

Didaerah tersebut juga kita dapat temui perpustakaan milik pemerintah Saudi yang dibuka untuk umum beserta masjidnya dan konon menurut masyarakat setempat masih di lingkungan kompleks perpusatakaan tersebut terdapat istana peristirahatan keluarga kerajaan Saudi. Didaerah itu juga terdapat kediaman penulis beken berkebangsaan Inggris yang bernama Tahir Shah.

Untuk mencapai corniche tersebut tidaklah sulit. Ada banyak transportasi yang melewati daerah itu. Jika kita menggunakan taxi kita hanya perlu membayar 20-30 MAD dari pusat kota Casablanca. Ada juga jalur bus yang melalui daerah tersebut yaitu jalur 68 dan kita cukup membayar 4 MAD per orang. 

Monday, March 26, 2012

Kasbah in Tanger


Impian untuk melihat dari dekat makam Ibnu Batuta membuat saya dan suami melangkahkan kaki ke tempat ini. Dengan berjalan mendaki dan berundak-undak sampai kelelahan tak menyurutkan semangat kami untuk tetap mencari makam tersebut tapi sayang kami tidak menemukannya dan sebagai gantinya kami menemukan tempat yang diyakini penduduk setempat yang merupakan perkampungan tempat tinggal Ibnu Batuta semasa mudanya. Mengenai makamnya tak satupun masyarakat yang tahu dimana letaknya dan di kota mana.
Kekecewaan kami akhirnya sirna ketika akhirnya kami melihat daratan Giblaltar dan pelabuhan baru dari kejauhan di atas Kasbah yang merupakan benteng peninggalan yang sudah tua termakan waktu dan tinggal separuh saja. Untuk menemukan benteng tersebut agak membingungkan karena jalannya berliku-liku dan harus melewati perkampungan masyarakat serta pasar (souk), beruntung kami mengikuti rombongan turis dan guidenya yang mau menuju kesana.


























Foto didaerah pemukiman yang diyakini sebagai tempat tinggal Ibnu Batuta

Masjid Hasan II (Deux)


Terletak di jantung kota dan di tepi laut Atlantik. Dari jauh kelihatan seolah-olah masjid tersebut terapung dilaut dan memang hampir separuh masjid tersebut berada di laut yang ditimbun. Menurut salah seorang masyarakat setempat, dulunya tempat tersebut adalah laut seluruhnya sebelum ditimbun.Nama masjid tersebut diambil dari nama raja terdahulu yaitu Hasan II. Didisain oleh arsitek berkebangsaan Prancis yang bernama Michel Pinseau dan dibangun oleh Bouygues

Konon masjid itu sekarang adalah terbesar kelima didunia setelah dua masjid Haramain di Mekah dan Madinah dan menaranya tertinggi didunia yaitu 210 m (689 ft) .
Masjid ini mulai dibangun pada tahun 80 dan selesai pada hari ulang tahun ke-60 raja Hasan II pada tahun 1989 namun masjid ini baru di resmikan pada tanggal 30 Agustus 1993. Menurut data pemerintah daerah setempat masjid ini menghabiskan dana sebanyak $800 juta dollar.

Dibutuhkan sebanyak 2500 kuli dan 10.000 seniman untuk membangun masjid ini . Material masjid ini adalah granit, gips, kayu, dan pualam yang keseluruhannya berasal dari Maroko namun tiang-tiangnya dan lampu gantungnya berasal dari Italia.
Masjid ini adalah satu-satunya masjid yang mengizinkan orang non-muslim untuk melihat-lihat. Setiap hari ada saja bus-bus yang rata-rata dari Eropa entah dari Prancis, Italia dan lainnya datang melihat interior masjid tersebut.
Masjid ini juga masjid yang termegah dan termodern yang ada di Maroko.

Didalamnya kita dapat jumpai elevator, keran-keran air panas dan lantai yang anti panas. Disekeliling halamannya kita dapat temui perpustakaan dan universitas. Terdapat berbagai jenis pola mozaik khas Andalus yang disebut juga Zellige atau Zillij yang beraneka ragam. Mozaik tersebut tersusun dari keramik yang di potong menurut pola dan disusun serta dilengketkan pada terakota.

Monday, November 1, 2010

Kota Rabat

Rabat Ibukota Kerajaan dan spot-spotnya Adalah ibukota Maroko dan juga berfungsi sebagai kota politik dan administrative. Penamaan kota Rabat berasal dari bahasa Arab yaitu: ar-Rabat atau ar-Ribat.

Populasinya mencapai 650.000 jiwa. Kota Rabat mempunyai temperatur yang sedang yang berubah dari dingin menjadi hangat pada musim panas. Malamnya selalu dingin atau sangat dingin pada musim dingin dengan temperatur berkisar +9/10 (+15/18 F°). Suhu pada musim dingin paling tinggi pada bulan Desember-Januari hanya berkisar 17.5 °C (63.5 °F).

Kota ini yang walaupun ibukota namun tenang dan tidak hiruk pikuk. Tidak terdapat banyak pusat perbelanjaan modern atau mall. Kota ini salah satu kota yang spasial bagi saya karena di sinilah saya menikah dan menghabiskan satu tahun pernikahan kami. Wisata di daerah ini berkisar laut dan tempat-tempat sejarah yang memang dilestarikan dan masih berdiri kokoh.

Sejarah kota Rabat bermula dari pembangunan tempat yang dikenal sebagai Chellah ditepi sungai Bou Regreg pada abad ketiga SM. Pada 40 M, bangsa Romawi menjajah Chellah dan menjadikannya daerah kekuasaannya. Bangsa Romawi berdiri didaerah tersebut sampai 250 M.

Pada tahun 1146, pemimpin dinasti Almuwwahidin yang bernama Abdel Mu'min membentengi kota Rabat seluruhnya untuk menangkal serangan bangsa Spanyol dan kota Rabat berganti nama menjadi Ribatul-Fath yang artinya 'Kemenangan besar' pada tahun 1170. Bangsa Prancis menduduki Maroko pada tahun 1912. Jendral Hubert Lyautey , administrator bangsa Prancis bagi Maroko memindahkan ibukota dari Fez ke Rabat. Disebabkan beberapa faktor, Sultan Moulay Youssef mengikuti keputusan bangsa Prancis dan memindahkan kediamannya ke kota Rabat. Pada tahun 1913 Jendral Lyautey mengangkat Henri Prost, orang yang mendisain Ville nouvelle (Madinati Jdid/kota baru) untuk menjadi administrative sector setelah Maroko merdeka pada tahun 1956, lalu Mohammed V yaitu raja Maroko memilih kota Rabat sebagai ibukota pemerintahan. Di Rabat kita dapat menemukan berbagai tempat yang menarik untuk dijadikan daerah tujuan wisata, seperti:
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Facebook Badge

The beginning of making this blog

Maroko atau al-Magrib (Morocco: Inggris), pada awalnya sungguh tidak pernah terpikirkan autor untuk mengunjunginya apalagi sampai menetap di negeri yang sangat asing tersebut bahkan sangat jarang terdengar oleh telinga dan sedikit pun tidak pernah terbetik di hati saya untuk mengunjunginya.

Ia terletak di benua Afrika bagian utara, berbatasan dengan negara: Spanyol di sebelah utara, Aljazair di sebelah timur, Mauritania di sebelah selatan dan di bagian sisi baratnya membentang lebar samudera Atlantik hingga ke benua Amerika. Jarak dari Indonesia sendiri ditempuh 18 jam perjalanan via airplane.

Maroko menyimpan sejuta kenangan yang hampir dipastikan tidak akan saya lupakan seumur hidup. Bagaimana tidak, di negeri Ibnu Batouta tersebutlah penulis bertemu, menikah dan mengarungi empat tahun bahtera perkawinan. Negerinya sangat eksotik sayang untuk dilupakan begitu saja berlalu termakan waktu.

Tujuan awal penulisan blog ini adalah pengenalan dan penggalian budaya masyarakat setempat (Maroko red) serta dokumentasi perjalanan saya selama merantau di negeri tersebut. Berbekal dengan pengalaman tinggal selama empat tahun tersebut serta keinginan kuat untuk mendokumentasikan cerita-cerita unik pelengkap koleksi foto serta budaya dan tradisi masyarakat setempatlah membuat saya sedikit nekat untuk menuliskan blog pertama saya ini.

Saya memilih Judul "Untaian Cerita dari al-Magribi", untuk mendokumentasikan setiap perjalanan penulis ke daerah-daerah tertentu serta objek unik yang penulis tidak pernah jumpai dimanapun baik di Qatar, tempat bermukim penulis sebelumnya seperti sistem jual beli dan Driyal yang berlaku serta sempat membuat keki dan kelimpungan penulis.

Saya sangat mengharapkan blog ini dapat menjadi semacam buku 'pintar' yang berisi info-info singkat yang dibutuhkan orang yang ingin berkunjung ke negara tersebut juga dapat menjadi tour naratif yang deskriktif sehingga seolah-olah pembaca dapat merasakan 'aroma' Maroko serta menyelami pengalaman saya.

Banyak sekali hal-hal yang sangat layak kita ketahui tentang Maroko, bagaimana tidak Indonesia sebagai Negara Islam terbesar harus tahu tentang sejarah peradaban Andalusia yang sangat lama serta kokoh yang berada di sebagian daerah Maroko. Juga dari segi tokoh-tokoh baik ilmuwan, penjelajah dan pejuang yang mengharumkan segenap persada dunia Islam pada khususnya adalah orang Maroko. Hubungan emosional masyarakat Maroko dan Indonesia yang sangat dekat juga dirasakan penulis sebagai alasan tepat penulisan blog ini. Bagaimana tidak dahulunya proklamator kita dan raja Mohammed V berkarib dekat sampai-sampai terdapat penamaan jalan yang mengambil nama 'Jakarta', 'Bandoeng' serta 'Soekarno' begitu pula terdapat nama tempat 'Casablanca' yang sebenarnya adalah nama salah satu kota penting di Maroko.

Mungkin selama ini terbetik dalam benak kita bahwa universitas Islam yang tertua di dunia adalah Al Azhar-Cairo padahal ditilik dari sejarah ternyata universitas Al Karawiyyin di kota Fes telah berdiri kokoh 120 tahun sebelum Al Azhar serta adalah salah satu alumninya seorang pemimpin gereja katolik tertinggi Vatikan-Roma yaitu Paus Paulus Salvatore VIII!!!.

Arita Agustina Med HATTA