Showing posts with label Tradisi Maroko. Show all posts
Showing posts with label Tradisi Maroko. Show all posts

Friday, April 6, 2012

Pakaian Tradisional Maroko


Setiap bangsa memiliki ciri khas tertentu yang membedakannya dengan bangsa lain, salah satu ciri istimewa yang paling mudah dikenal banyak orang adalah busana atau pakaian tradisional. Pada masyarakat Maroko kita mengenal beberapa jenis busana unik yang tidak ditemukan pada bangsa manapun di dunia, seperti: Djellaba, Djabador,  dan Tachita. Masyarakat setempat juga menyebut jenis-jenis b terusana tersebut sebagai "Caftan" (wanita). 

Pada dasarnya, busana itu hanya berupa gamis yang dikenakan baik laki-laki maupun perempuan, memiliki topi yang menyatu dengan gamis pada bagian belakangnya seperti kebanyakan jaket musim dingin atau pakaian hujan. Adapun pakaian-pakaian tradisional masyarakat Maroko tersebut dapat dikasifikasikan sebagai berikut:

  1. Djellaba, adalah pakaian sehari-hari masyarakat ini yang digunakan disegala kesempatan, baik saat pergi ke pasar, ke hammam dan dirumah-rumah. Semua pakaian ini memiliki seni pilinan benang yang mempunyai corak dan warna tertentu yang sangat indah dan dilekatkan diujung pakaian tersebut juga berfungsi sebagai kancing. 
  2. Djabador, adalah sejenis djellaba namun berupa pakaian two pieces yang terdiri dari celana dan baju atasan yang sangat panjang hingga menutup betis. Biasa dikenakan oleh para wanita yang belum menikah atau masih muda. Djabador juga bisa di pakai oleh laki-laki, namun dengan motif dan model yang berbeda pula. 
  3. Tachita, adalah pakaian resmi bagi masyarakat Maroko yang biasanya digunakan bila ke pesta, pernikahan serta pertemuan-pertemuan penting keluarga. Terlihat di pesta-pesta diistana yang sering penulis lihat di tv setiap anggota keluarga istana menggunakan tachita. Tachita berupa djellaba two pieces atau tree pieces yang sangat gemerlapan dan harganya pun sangat mahal. Berwarna cerah dan dihiasi pilinan benang khas masyarakat, manik-manik serta mote. 
Tachita mempunyai obi yang dihiasi pilinan benang serta sangat panjang hingga menjuntai kelantai. 
Ada lagi pakaian special yang biasa digunakan wanita sahara yang biasanya bermukim didaerah gurun sahara yaitu Malhafa. Berupa kain yang panjangnya mencapai empat meter serta dililitkan dibagian badan sampai kepala. 
Adapun busana bagi laki-laki di Maroko ada beberapa jenis juga tergantung dari daerah dan adat setempa, seperti: 
  1. Gandora, terdapat dua macam gandora bagi laki-laki Maroko, yaitu berupa djellaba yang tidak memiliki topi dibelakangnya dan terbuat dari kain sejenis wol dan linen dan juga tidak berlengan panjang. Ada pula satu jenis gandora lain namun hanya dikenakan oleh laki-laki yang berasal dari Sahara. Perbedaannya hanya pada ornamen/ hiasan didadanya saja, serta warnanya dan biasanya laki-laki Sahara juga mengenakan tutup kepala yang bernama sorban. 
  2. Burnoose atau Selham, adalah pakaian luar pelengkap penampilan seorang laki-laki dan juga sebagai pelindung dingin bagi mereka. Terbuat dari wol atau katun serta memiliki topi dan biasanya dikenakan oleh suku Barbar dan Arab. 
Selain busana berupa gamis dan celana, masyarakat Maroko juga menggunakan sandal khasyang bernama  baboosh
Yaitu sandal yang terbuat dari kulit yang biasanya berwarna-warni atau biasanya berwarna kuning bagi laki-laki maupun perempuan. Sandal tersebut tidak memiliki hak serta berbentuk runcing didepan. 
Penampilan tidaklah lengkap tanpa adanya asesoris pendukung seperti topi. Topi bagi laki-laki Maroko juga berguna dipakai pada waktu-waktu yang special seperti pernikahan. Topi tersebut berwarna merah dan mempunyai juntaian benang ditengahnya. Topi tersebut bernama tarbouche dan biasanya berasal dari Fez.


Monday, April 2, 2012

Zellige (Zellij atau Mosaic)


Zellij adalah seni khas masyarakat Maroko yang sangat erat kaitannya dengan seni arsitektur. Berupa kerajinan  terakota tile work yang berwujud mosaic keramik yang disusun dengan motif tertentu seperti, octagonal, bintang, palang yang berwarna biru, kuning, putih, merah dan hijau. 

Biasanya zellij ini di tempatkan di dinding, plafon, kolam, air mancur serta meja. Kesenian ini pertama kali berkembang di Andalousia - Spanyol dan dibawa ke Maroko pada abad ke-10. pada waktu itu zellij ini hanya bernuansa putih dan coklat. Baru pada abad ke-14 zellij mempunyai warna-warna yang lain. Maka kota Fes dan Meknes adalah pusat kesenian ini.

Kesenian ini diturunkan turun temurun oleh maâlems dan mulai diajari sedari kecil. Contoh zellij ini dapat kita lihat di masjid terbesar di Maroko yaitu Hasan II. Terdapat ornament zellij di hampir semua tempat mulai dari dinding, air mancur dengan motif serta warna yang berbeda pula.




Maha karya zellige di masjid Hassan II

Tuesday, August 10, 2010

Makanan Berbuka Puasa ala Maroko



Bagrir



Buah Tin



Tajine


Bubur Harira


Cous cous


Roti khas masyarakat Maroko diisi dengan Murtadella


Yougart


Buah Zaitun


Atai (Teh khas masyarakat dengan rasa mint, dll)



Susu yang selalu tersedia di meja mereka


Malwi


Pattiseri (Roti khas Prancis)


Jus jeruk


Buah-buahan adalah wajib dikonsumsi mereka



Chabbakia yang sangat manis dan gurih



Kurma

Saturday, December 19, 2009

Hammam


Jika anda ditawari mandi dengan air panas di tempat yang bagus namun anda harus mandi ditengah kerumunan orang apakah serta merta anda mau? mungkin hampir sebagian besar dari kita akan menolak dengan dalih privasi (ini bukan seperti kolam renang lo) dan sebagainya tapi tidak begitu dengan masyarakat Maroko. Mereka menjalani rutinitas mandi beramai-ramai dari kecil hingga dewasa tidak terkecuali pria maupun wanita atawa anak-anak tentunya ruang mandinya terpisah.

Kebiasan masyarakat Maroko adalah tidak membangun kamar mandi di masing-masing rumah kecuali hanya kalangan masyarakat atas. Mereka hanya menyediakan WC atau kakus saja jadi kegiatan mandi mereka lakukan di sebuah tempat yang mereka namakan HAMMAM. Hammam memiliki dua bagian yang terpisah antara pria dan wanita. Biaya masuk ke hammam bervariasi antara 5 DH sampai 10 DH dengan waktu yang tidak terbatas. Biasanya hammam buka dari jam 7 pagi sampai jam 10 malam. Air yang berada di hammam dipanaskan dengan metode mirip cara kita merebus air dengan menggunakan tungku besar yang dipanaskan dengan bantuan kayu bakar.

Di dalam hammam kita bisa menemukan fasilitas penitipan barang, keran air panas dan air dingin (bersuhu ruang) serta ember yang dapat dipinjam juga ada beberapa orang yang menawarkan jasa menggosok badan. Biasanya orang yang ke hammam sudah membekali dirinya dengan ember sendiri, sabun dan keperluan mandinya serta tempat duduk kecil sejenis dinglik.

Mandi didalam hammam yang mempunyai suasana seperti sauna dengan uap panasnya merupakan keunikan tersendiri. Mereka menjalani aktivitas mandi seraya bercengkarama dengan sesamanya. Perlu diketahui bahwa salah satu ajang silaturrahmi diantara mereka berlangsung di hammam. Mereka selalu berangkat bersama-sama ke hammam dengan ember ditangan serta segembol tas besar berisi peralatan mandinya, yah pokoknya heboh sekali, maklum mereka ke hammam hanya seminggu sekali (jadi selama absen ke hammam ga pernah mandi? Yup begitulah!) jadi sekali pergi mereka bisa menghabiskan waktu berjam-jam di dalam.

Ritual mandi akan maksimal selama memakai sabun khusus untuk melunturkan daki yang bernama SABUN BILDI yang dibuat secara tradisional berbentuk menyerupai gemuk atau pelumas. Sabun tersebut berwarna coklat tua kehitam-hitaman dengan aroma khasnya, ada juga yang berwarna hijau muda. Sabun tersebut juga bukan hanya dipakai mandi oleh orang setempat namun bisa juga dipakai untuk membersihkan panci atau peralatan masak yang berbahan dasar metal. Segala noda baik itu berupa bekas gosong kehitaman maupun bekas minyak akan segera hilang dengan keampuhan sabun tersebut tampa membuat tangan menjadi kasar.

Ada dua jenis hammam yang dibedakan dengan fasilitas plusnya yaitu hammam yang berfungsi sebagai tempat mandi saja dan hammam yang menerima jasa untuk memanggang roti, ikan dan lain-lain. Tempat pemanggangan tersebut lazim disebut dengan FARRAN oleh orang setempat. Hal itu dimungkinkan ada karena farran tersebut hanya menumpang panas dari tungku pembakaran air jadi miriplah dengan cara tradisional nenek moyang kita dahulu memanggang. Roti atau sesuatu yang dipanggang hanya di taruh diruangan khusus dalam tungku dan api yang lagi menyala. Kegiatan memanggang dilakukan hampir sebagian besar masyarakat Maroko terutama yang berada di pinggir kota dan yang berekonomi menengah kebawah. Bagi orang yang memanggang hanya dikenakan biaya sebesar 1 DH atau dapat membagi sama rata yang dipanggangnya namun yang lazim di bagi hanyalah roti saja. Farran juga menjual hasil panggangan yang sudah jadi kepada masyarakat yang membutuhkannya.

Selain hammam ada lagi tempat pemandian umum lainnya bernama DOUCHE itu berupa ruang-ruang kecil terbagi-bagi antara satu dengan lainnya serta hanya dipakai oleh satu orang saja. Douche tidak menyediakan keran air panas namun shower seperti yang tersedia diberbagai tempat fitness terkemuka. Biaya ke douche berkisar antara 5 sampai 10 DH.


Sabun Bildi


Didalam Hammam

Source pic www.2m.tv/images/acc-simpl-lamassat-beauté-s.jpg and http://www.lallamira.ma

Atai Maroko


Masyarakat Maroko mempunyai minuman favorite yang selalu dihidangkan di berbagai kesempatan baik dalam acara menjamu tamu, pesta perkawinan, kematian ataupun sekedar teman makan kue ketika sore hari yaitu Atai atau teh. Ada bermacam rasa teh yang mereka hidangkan, seperti rasa mint (na’na), luiza dan shiba. Cara membuatnya pun tidak seperti aturan kita membuat teh biasa yaitu teh celup atau tubruk yang hanya cukup diseduh dengan air panas dan segera diberi gula lalu dihidangkan. Berikut ini cara membuat teh yang biasa mereka lakukan.
 Teh tubruk 2 sdm (biasanya mereka menggunakan teh yang diimpor dari China)
 Gula kubus khusus teh sesuai selera (bisa juga menggunakan jenis gula pasir biasa)
 Daun Mint atau luiza atau shiba 10 lembar (na’na)
 Air satu teko sedang
Cara membuat
Panaskan air hingga mendidih lalu tuangkan sedikit kedalam gelas yang sudah berisi teh tubruk lalu buang airnya dan ulangi sekali lagi serta masukkan kedalam teko yang masih diatas api. Ambil daun mint dan masukkan ke dalam teko serta masukkan gula, teh siap dihidangkan.
Menyajikan teh Maroko tidaklah seperti yang lazim kita lakukan yaitu teh langsung dituang dan langsung disajikan namun teh dituang dengan posisi teko dinaikkan tinggi-tinggi lalu dituang kedalam gelas terlebih dahulu lalu dimasukkan ke dalam teko, hal itu diulang sedikitnya dua kali baru teh siap di nikmati.




Daun Luiza kering


Daun Mint


Daun Shiba


Daun Luiza segar

Wednesday, December 16, 2009

Malam 27 Ramadhan bagi masyarakat Maroko


Bulan ramadan adalah bulan suci umat islam. Kita wajib menghormati dan mengisinya dengan amalan-amalan yang baik. Di mesjid, surau dan di rumah riuh dengan manusia yang bertarawih dan dilanjutkan bertadarus tidak terkecuali di Maroko bumi Andalusia. Mereka menyambutnya dengan tradisi yang unik.

Pada malam ke dua puluh tujuh sehabis menunaikan shalat tarawih, mereka berbondong-bondong pergi keluar bersama segenap keluarganya. Tua muda ikut berpartisipasi memeriahkan malam tersebut. Semua anak-anak di dandani dengan make up dan pakaian adat untuk ke pesta mereka bernama Caftan ( pakaian sejenis gamis yang berhiaskan jalinan benang yang dipilin dan memiliki obi bagi perempuan) yang terbagus. Ada juga yang menyewa pakaian agar terlihat cantik dan gagah. Semua tidak mau ketinggalan. Mereka juga memakai henna (inai) di tangan dan di kaki (hanya bagi perempuan). Anak laki-laki juga tidak ketinggalan. Dengan memakai koleksi Djelaba (pakaian seperti gamis yang berhiaskan jalinan benang yang dipilin) terbagus mereka pun siap unjuk diri. Mereka memenuhi tempat yang merupakan tempat ramai seperti taman kota, dekat air mancur dan pelataran masjid sampai pameran-pameran yang saat itu kebetulan diadakan.

Selesai berjalan-jalan mereka berfoto ke studio yang pada saat itu menyediakan jasa foto malam 27. Ada yang berpose di punggung kuda sampai kursi khusus pengantin. Ritual tersebut baru selesai kira-kira jam 12 malam dan suasana pun menjadi sepi pertanda mereka telah puas menikmati panorama malam dan tidak lupa sudah berfoto juga.

Tradisi makan Couscous pada masyarakat Maroko


Maroko berada pada benua Afrika sebelah utara, berpenduduk mayoritas besar umat Islam. Seperti umat Islam pada umumnya mereka menganggap penting hari jum’at. Menurut hadits ada tiga hari raya umat Islam yaitu Hari raya Aidul Fitri, Hari raya Aidul Adha dan hari Jum’at. Mungkin karena hal tersebut diatas mereka merasa perlu untuk merayakan hari Jum’at dengan memasak yang tidak biasa serta special.

Pada hari Jum’at tersebut para wanita sibuk memasak setelah sebelumnya berbelanja bahan-bahan yang dibutuhkan. Hal itu terlihat dari pasar yang penuh lebih dari hari biasanya. Mereka membeli tepung Couscous, ayam atau daging, serta sayur mayur yang meliputi labu kuning, zucchini, lobak putih serta wortel. Hari itu biasanya para penjual ikan tutup dikarenakan mereka tidak membutuhkan ikan sebagai bahan baku Couscous (menurut pengamatanku yang selalu tidak menemukan ikan pada hari tersebut kecuali di supermarket).

Selepas sholat Jum’at biasanya para lelaki segera bersiap-siap pulang ke rumah dengan menenteng buah yang sedang musim pada saat itu. Mereka menikmati Couscous beserta segenap keluarga mereka tidak terkecuali. Uniknya penyajian Couscous tidak seperti kita (makan dengan piring yang berbeda). Mereka makan dengan nampan besar yang mana Couscous tertata dan sudah dituangi sayur, daging dan kuahnya. Semua sibuk mengambil Couscous tersebut dengan tangan atau sendok dalam satu meja. Mereka memulai dan berhenti bersama-sama, tidak terkecuali pada tamu yang kebetulan diundang tetapi mereka biasanya hanya makan sesama laki-laki atau perempuan saja. Itupun jika ada yang bertamu jika tidak mereka makan berkumpul satu keluarga.

Setelah makan biasanya mereka tidak langsung minum air putih melainkan laban (sejenis yougart yang rasanya asin) dan buah-buahan. Habis makan mereka berbincang-bincang ataupun tidur (iya tidur!!) di kursi yang tersedia di ruang tamu atau yang lazim di sebut salon oleh orang sini. Kursi tersebut memang memiliki bentuk seperti tempat tidur buat 1 orang namun memanjang. Baru setelah jam 3:00 atau sehabis ashar mereka melanjutkan aktivitas mereka.

Afternoon Tea


Teh adalah minuman yang sangat menyegarkan. Hampir semua orang suka dan pernah minum teh. Tua dan muda meminumnya. Ada banyak mamfaat teh, menurut penelitian zat yang terkandung didalamnya dapat mencegah kanker. Ada bermacam-macam rasa teh. Di Indonesia misalnya ada teh hijau yang berasal dari benalu teh, ada juga teh rasa bunga seperti bunga mawar dan melati. Tak hanya itu bahkan di supermarket kita dapat menemukan produk impor teh yang mempunyai rasa yang tidak biasa seperti cammomile, peach sampai jeruk begitu juga di Maroko.

Setiap sore biasanya orang Maroko selalu meminum teh persis seperti kebiasaan masyarakat Inggris. Mereka juga meyertakan cemilan yang akan dimakan bersama teh seperti biscuit, roti yang di olesi selai maupun mentega atau kiri (sejenis keju) dan pattiserie. Dalam acara pesta perkawinan, bertamu sampai kematian, kita akan selalu menemukan teh dalam salah satu sajiannnya. Memang mereka sangat menggandrungi kebiasaan minum teh. Jenis teh yang dihidangkan adalah jenis teh yang berasal dari Cina yang berbentuk tubruk tetapi mereka tidak hanya meminum begitu saja melainkan di campur lagi dengan daun-daunan tertentu seperti na’na’ atau yang lazim di sebut mint di negara kita. Ada lagi yang namanya shiba dan luiza.

Pembuatannyapun tidak lazim seperti yang kita biasa lakukan. Pertama-tama mereka memasak air sampai mendidih di sejenis teko teh khusus, setelah mendidih mereka akan menuangkan sedikit air panas tersebut ke dalam cangkir yang sudah berisi daun teh tersebut tetapi tidak langsung diberi gula namun air teh tersebut dibuang dengan menyisakan tehnya saja dan hal tersebut di ulang sedikitnya dua kali. Setelah itu teh tersebut dimasukkan ke dalam teko yang masih berada di atas api dan diberi gula kubus khusus teh baru setelah itu di beri mint atau shiba, teh siap dihidangkan.

Keunikan teh Maroko tidak hanya terletak dari cara pembuatannya namun pada proses penuangannya juga. Mereka menuangkan teh tersebut dengan cara mengangkat tinggi-tinggi teko dan menuangkan teh ke dalam cangkir-cangkir yang telah tersedia.

Aidul Adha di Maroko


Salah satu hari yang di muliakan umat Islam adalah hari raya haji atau Aidul Adha/ Aidul Qurban. Pada saat itu ada hari yang dimana di sebut hari tasyrik. Yaitu pada tanggal 11, 12 sampai 13 Zulhijjah dalam kalender hijriah. Saking di anjurkan untuk di meriahkan, tiga hari tersebut juga diharamkan bagi kita untuk berpuasa. Pada hari itu juga disunatkan menyembelih hewan bagi yang mampu. Hewan yang lazim di sembelih meliputi unta, sapi dan kambing.

Masyarakat Maroko yang berada pada bumi Andaluasia pun melakukan ritual tersebut. Berbeda dengan di Indonesia yang menyembelih hewan jika mampu, di Maroko semua orang tak terkecuali mampu ataupun tidak memaksakan diri untuk menyembelih qurban. Bahkan menurut salah satu koran setempat yang pernah aku baca seorang miskin terpaksa menjual atap rumahnya hanya untuk membeli kambing saja. Jadi ritual menyembelih disini sudah seperti budaya bukan sekedar kewajiban agama saja. Kalau di Indonesia kita menyembelih secara bersama-sama dan setelah itu dibagikan bagi yang tidak mampu, tidak begitu dengan masyarakat disini. Mereka meyembelih sendiri dan memakannya sendiri pula (baca sekeluarga saja) walau ada juga yang memberikan daging buat orang lain juga namun hal itu sangat sedikit di lakukan.

Di Indonesia sapi di potong untuk qurban tujuh orang dan kambing untuk satu orang, hal itu tidak berlaku di Maroko. Mayoritas dari mereka hanya menyembelih kambing saja itupun bagi suatu keluarga bukan dihitung perkepala. Jenis kambing yang lazim mereka sembelih adalah kambing biri-biri (kharup) dan kambing kampung (mais) sementara sapi hanya disembelih bagi minoritas orang yang sangat mampu saja. Harga kambing biri-biri pada hari mendekati qurban adalah 1700 dh sampai 3000 dh sedangkan kambing kampung adalah 700 dh sampai 1500 dh tergantung kilonya dan keadaan kambingnya.

Pada hari-hari menjelang lebaran akan di temui fenomena yang tidak biasa. Semua tanah lapang berubah menjadi pasar kambing begitu juga banyak di temukan pedagang kambing dadakan yang menjual kambing di garasi rumahnya. Selain fenomena tersebut kita juga akan menemukan jasa para pengasah pisau di setiap tempat yang ramai dan mudah dilihat orang, entah itu pasar ataupun di tepi persimpangan jalan juga ada yang mendatangi rumah-rumah sambil membawa alat gerindanya. Para pedagang juga tidak mau ketinggalan mereka menjual alat-alat yang berhubungan dengan perqurbanan seperti pisau sembelih, gergaji tulang, kawat gantungan daging, tali untuk mengikat kambing, arang serta alat untuk memanggang daging. Pada saat itu mereka sibuk berbelanja kebutuhan lebaran. Semua pusat perbelanjaan dipenuhi dengan antrean pembeli. Biasanya mereka membeli alat yang berhubungan dengan lebaran, sembako dan tak ketinggalan coke. Selain teh mereka juga sangat menyukai coke (sungguh sebuah fenomena yang luar biasa).

Selepas shalat Aidul Qurban para kepala rumah tangga bersiap-siap memotong kambingnya sendiri. Kadang-kadang mereka menguliti sendiri atau memanggil orang untuk melakukannya. Biaya menguliti berkisar 50 dh perekor. Setelah itu mereka tidak langsung memasak dagingnya melainkan di gantung dulu baru esoknya di masak. Pada hari pertama mereka hanya memakan jeroannya saja. Pada hari kedua biasanya mereka memanggang daging atau membuat sate yang lazim di sebut brochette. Jangan bayangkan mereka memakai bumbu memanggang sate tersebut seperti yang dilakukan masyarakat kita. Sate hanya di bakar baru setelah itu dimakan bersama ketumbar bubuk (kasbur), jintan bubuk (kamun) dan garam saja. Jenis masakan yang sering dimasak pun berkisar antara tajine (masakan daging dengan bumbu-bumbu tertentu dengan daun ketumbar dan banyak bawang yang dimasak lama sekali) Kalau di Indonesia masakan tersebut setara dengan kedudukan rendang, cotlette (iga kambing yang dipanggang diatas bara api), couscous juga sering dimasak pada hari tersebut (sejenis gandum yang dimasak dengan daging, bumbu dan sayur-mayur). Pada hari itu di jalan-jalan banyak juga di temukan jasa orang yang membersihkan kepala kambing. Hampir tiap meter di temukan usaha dadakan tersebut.



Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Facebook Badge

The beginning of making this blog

Maroko atau al-Magrib (Morocco: Inggris), pada awalnya sungguh tidak pernah terpikirkan autor untuk mengunjunginya apalagi sampai menetap di negeri yang sangat asing tersebut bahkan sangat jarang terdengar oleh telinga dan sedikit pun tidak pernah terbetik di hati saya untuk mengunjunginya.

Ia terletak di benua Afrika bagian utara, berbatasan dengan negara: Spanyol di sebelah utara, Aljazair di sebelah timur, Mauritania di sebelah selatan dan di bagian sisi baratnya membentang lebar samudera Atlantik hingga ke benua Amerika. Jarak dari Indonesia sendiri ditempuh 18 jam perjalanan via airplane.

Maroko menyimpan sejuta kenangan yang hampir dipastikan tidak akan saya lupakan seumur hidup. Bagaimana tidak, di negeri Ibnu Batouta tersebutlah penulis bertemu, menikah dan mengarungi empat tahun bahtera perkawinan. Negerinya sangat eksotik sayang untuk dilupakan begitu saja berlalu termakan waktu.

Tujuan awal penulisan blog ini adalah pengenalan dan penggalian budaya masyarakat setempat (Maroko red) serta dokumentasi perjalanan saya selama merantau di negeri tersebut. Berbekal dengan pengalaman tinggal selama empat tahun tersebut serta keinginan kuat untuk mendokumentasikan cerita-cerita unik pelengkap koleksi foto serta budaya dan tradisi masyarakat setempatlah membuat saya sedikit nekat untuk menuliskan blog pertama saya ini.

Saya memilih Judul "Untaian Cerita dari al-Magribi", untuk mendokumentasikan setiap perjalanan penulis ke daerah-daerah tertentu serta objek unik yang penulis tidak pernah jumpai dimanapun baik di Qatar, tempat bermukim penulis sebelumnya seperti sistem jual beli dan Driyal yang berlaku serta sempat membuat keki dan kelimpungan penulis.

Saya sangat mengharapkan blog ini dapat menjadi semacam buku 'pintar' yang berisi info-info singkat yang dibutuhkan orang yang ingin berkunjung ke negara tersebut juga dapat menjadi tour naratif yang deskriktif sehingga seolah-olah pembaca dapat merasakan 'aroma' Maroko serta menyelami pengalaman saya.

Banyak sekali hal-hal yang sangat layak kita ketahui tentang Maroko, bagaimana tidak Indonesia sebagai Negara Islam terbesar harus tahu tentang sejarah peradaban Andalusia yang sangat lama serta kokoh yang berada di sebagian daerah Maroko. Juga dari segi tokoh-tokoh baik ilmuwan, penjelajah dan pejuang yang mengharumkan segenap persada dunia Islam pada khususnya adalah orang Maroko. Hubungan emosional masyarakat Maroko dan Indonesia yang sangat dekat juga dirasakan penulis sebagai alasan tepat penulisan blog ini. Bagaimana tidak dahulunya proklamator kita dan raja Mohammed V berkarib dekat sampai-sampai terdapat penamaan jalan yang mengambil nama 'Jakarta', 'Bandoeng' serta 'Soekarno' begitu pula terdapat nama tempat 'Casablanca' yang sebenarnya adalah nama salah satu kota penting di Maroko.

Mungkin selama ini terbetik dalam benak kita bahwa universitas Islam yang tertua di dunia adalah Al Azhar-Cairo padahal ditilik dari sejarah ternyata universitas Al Karawiyyin di kota Fes telah berdiri kokoh 120 tahun sebelum Al Azhar serta adalah salah satu alumninya seorang pemimpin gereja katolik tertinggi Vatikan-Roma yaitu Paus Paulus Salvatore VIII!!!.

Arita Agustina Med HATTA